A year of Pain.

by - June 29, 2014

Assalamualaikum,
Selamat malam! Apa kabar? Alhamdulillah atas semua nikmat yang telah diberikanNya pada kita semua sebagai umat nya.

Tak terasa sudah bulan puasa saja, malam ini tentang 1tahun perjalanan di jogja.

A year ago

Dahulu, saya masih dibingungkan akan pilihan. Seperti pada umumnya kelas 12 rasakan, ternyata masalah pemilihan program studi sekaligus ptn nya memang lah hal yang tidak mudah. karna apa yang akan dihadapi kedepan nya menentukan akan jadi apa diri kita ini. Saya, seorang yang masih tidak paham apapun mengenai masa depan, Alhamdulillah diberi pilihan untuk melanjutkan studi disini. Ya, tepatnya Teknik Nuklir. Mungkin aga aneh, karna saya seperti terjebak pada pilihan tersebut, yang bahkan hingga saya daftar ulang, saya tak mengerti mengapa saya bisa memilih pilihan tersebut. Dari itu saya sebut, pilihan setengah hati.

Hari terus berlalu, semakin saya minta petunjukNya, semakin saya bingung akan jalan yang harus saya ambil. Terus menerus berusaha, mengikuti ujian sana-sini seperti yang lain. Semakin banyak pula pilihan yang terbuka. Saya bingung, kalo kata orang, shalat Istikharah, tapi semakin terus menerus shalat, saya belum mendapatkan jawaban.

Suatu malam saat pengajian keluarga besar dari ayah saya, kami (3bersaudara) mengobrol sama paman.

"Kalo memang belum merasa diberi petunjuk, maka pilihlah yang sesuai dengan perasaan/feeling mu" kata Paman.

Tentu ini aga freak! Bayangkan, semua masa depan mu ditentukan berdasarkan perasaan. Dan saya benci sesuatu hal yang tak pasti, karna ini menyangkut masa depan saya. Waktu terus berlalu, deadline pendaftaran ulang pun semakin mendekat. Lagi, dengan kepasrahan saya, saya memilih sesuai dengan apa yang saya rasa paling cocok dengan kemampuan saya (yang lemah dalam hafalan).

Hari terus berlalu, pendaftaran langsung! Masih inget saya walaupun sudah 1tahun lama nya, saya dateng ke jogja, dengan tak tau arah dan tujuan. Landing tepat jam 20.00 malam, menuju GSP. Awalnya saya kira GSP kepanjangan nya adalah Geraha Sabha Pramana. ternyata yang benar adalah Graha Sabha Pramana. Kesan pertama ini yang tak akan saya lupakan, setidak nya, ini adalah salah satu hal dari banyak poin yang membuat saya tetap di jogja.


Graha Sabha Pramana 20.00 setempat


Kemudian, saya dibingungkan akan beberapa pilihan. Awalnya saya janji bertemu dengan senior di pintu GSP. Kemudian saya naik becak, karna ternyata di jogja sulit sekali untuk menemukan ojek saat itu. Ternyata, disini mayoritas menggunakan mata angin sebagai petunjuk jalan nya, tentu saya aga kebingungan saat ditanya melalui pintu gsp timur atau barat.

Kemudian makan malam. Melalu rutinitas sebagai mahasiswa baru, hingga dari ppsmb universitas hingga jurusan. saya mendapatkan beberapa pengalaman yang sayangnya hanyalah repetisi. Beberapa koreksi yang seharusnya dipikirkan adalah, ketika mereka ingin membuat mahasiswa baru disiplin, mereka (re: panitia) tentu lah harus orang yang disiplin. Karna, jika memang penyambutan ini bertujuan mencetak kader demikian, maka mereka yang telah lulus seharusnya memiliki standar yang salah satu nya adalah disiplin. Sangat disayangkan, beberapa terkesan justru hanya menaikan tensi nya. Menaikan tensi dengan tujuan menekan kita secara psikologis agar bersatu, yang sayangnya sekali lagi, ini merupakan repetisi dari apa yang telah saya dapat dahulu. Mungkin bagi mayoritas itu berhasil, tapi yang saya rasa ini hanyalah repetisi.

Teringat suatu ketika, saya kena hukuman. Mereka menuntut saya untuk mengucapkan dengan lantang hingga saya lelah berlari lari bagaikan anak ayam yang diseret tuan nya, ah bagi saya ini merupakan hal biasa. Tapi. Jika anda menuntut saya disiplin, saya siap dan mampu. Namun tolong mari bersama menuju standar itu.

Satu hal yang selalu teringat, bahwa, yang membedakan Manusia dengan yang lain nya adalah Manusia memiliki akal. Ketika tensi menaik seperti yang saya lihat, nampaknya sebagian dari mereka sudah lah tidak lagi menggunakan akal. Ketika manusia tidak menggunakan akal nya kembali (seperti mabuk, kalap, dll) sejati nya, Manusia itu hanyalah seekor hewan.


Maka, apa yang harus dilakukan mereka? Itu, hal itu yang masih menjadi pertanyaan saya selama 2tahun menjadi "Mereka" di masa kegiatan ekstrakulikuler.

Selesai masa masa penyambutan, kita mulai disibukan dengan kuliah. Macam macam kuliah menarik saya temukan disini, namun yang saya sadari adalah, ternyata kebudayaan yang saya bawa dari daerah saya, tidak dapat diterapkan disini. Mungkin, saat kuliah, kita semua sebagai mahasiswa, sudah berada pada kasta yang sama. Yakni sebagai manusia dengan manusia, tidak lagi anak kecil dengan guru. Mungkin, inilah perubahan mendasar yang perlu saya hadapi.
Bahwa saya bukan lah anak kecil lagi, bukan lagi seseorang yang masih dipilihkan jalan hidupnya. Saya adalah manusia dewasa yang seharusnya mampu memilih jalan hidup nya.

Mata kuliah menarik, hampir semua nya merupakan pengulangan pada saat sma. Hingga saya sadar, betapa minimnya materi yang saya dapat saat kelas 12 dulu. Saya paham, bahwa saat kelas 12 dulu, entah kami sebagai siswa yang terlalu tertekan akan UN sehingga belajar mengikuti kisi kisi yang dikeluarkan DisPen, atau Mereka yang mencari aman dan hanya mengajarkan kepada kami tentang hal hal yang mungkin keluar di UN, sisanya.... mereka lewatkan.

Saya merasakan, betapa pahitnya menjadi orang bodoh, yang tak mengerti apa apa. 1 bulan pertama kuliah, adalah pengalaman tersulit dalam bidang akademis saya. Hingga saya menggunakan strategi belajar, yang dulu saya gunakan saat smp. Override it till drop, Alhamdulillah, setelah sekian lama saya mampu mengejar ketertinggalan saya selama 1bulan awal kuliah. Ini merupakan hal yang menjadi catatan bagi saya untuk pendidikan 12 tahun yang telah dilewati. Kita diajarkan untuk menjawab soal, bukan untuk menganalisa nya. Kita diajarkan untuk menghafalkan pola soal, bukan untuk memodelkan nya.

UTS UAS berlalu, satu hal lagi yang menjadi pelajaran bagi saya adalah. This is University, kamu harus patuh akan peraturan yang ada disini. Ketika dilembar ujian tertulis tulisan, Kerjakan soal dengan berurutan, MAKA PATUHI. Mungkin ini yang menyebabkan target akademis semester 1 saya tidak sefantastis beberapa rekan yang lain, namun Alhamdulillah saya harus bersyukur. Mungkin, ini yang menjadi pelajaran kelak di semester selanjutnya.

Masuk kebabak selanjutnya, semester 2. 
Banyak mata kuliah yang ternyata, menuntut waktu belajar lebih banyak. Ternyata, dengan gaya hidup saya yang masih menyentuh game secara intens, saya merasakan i wont succeed in this term. Saya merubah pola hidup, mulai meninggalkan pola intens pada game. Setelah melalui beberapa bulan, tujuan saya mulai terlupakan. Saya menyibukan diri dengan tanggung jawab tanggung jawab lain nya diluar bidang akademis. Mungkin. Mungkin ini merupakan pelarian saya dari jenuh dengan kewajiban seorang mahasiswa. UTS UAS terlalui, saya. Merasa gagal, Merasa gagal sebagai seorang mahasiswa. Mungkin, ketika menemukan banyak soal, saya seharusnya mampu mengerjakan nya namun karna panik tak dapat dikerjakan dengan kepala dingin.

Kewajiban terus menerus dilimpahkan, dengan itu saya mulai berfikir. Mungkin term ini sudah berakhir, saya serahkan kepada Dia. Kemudian saya coba selesaikan semua kewajiban dengan kapasitas yang ada. Mungkin, I had enough with these things in this term.

Namun meskipun demikian, saya menemukan secercah cahaya yang ada pada term ini. Ya, mata kuliah yang saya tunggu tunggu. Agama. Yang ternyata seperti perkiraan saya, banyak yang telah saya pelajari dari dulu itu tidak berdasarkan dengan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Beliau menyampaikan Islam sebagai jalan yang memang harus kita tempuh tuk keluar dari Era Kegagalan ini. Saya merasa, ya. Saya gagal dalam menjalankan peran peran dalam hidup saya. Peran saya sebagai seorang anak, peran saya sebagai seorang mahasiswa, peran saya sebagai anggota organisasi, bahkan peran saya sebagai hamba Nya.

Dari sini saya mulai menyadari, mungkin, pilihan setengah hati tahun lalu itu, bertujuan agar saya sadar diri akan siapa saya dan apa tanggung jawab saya sebagai seorang umatNya. Dari sini, saya mulai belajar, bahwa Agama adalah hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan, yang dulu saat 12 tahun pendidikan, terasa bahwa tak ada hubungan yang berkesinambungan antara mata pelajaran dengan agama. 

Saya merasa, Jika seandainya dulu saya memilih berdasarkan logika, mungkin hal ini tak mungkin terjadi. Saya merasa, jika saya dulu yang menentukan, mungkin semua tak akan terjadi.

Saya sadar, bahwa, ketika manusia dihadapkan pada pilihan, maka, berjuanglah untuk mencari yang terbaik diantara pilihan tersebut. Namun sisa nya, biarkanlah Dia yang menentukan mana yang terbaik untukmu, BUKAN kita sebagai manusia yang menentukan.

Tentu kita tak asing dengan kata kata ini,

"Allah selalu memberikan apa yang terbaik untuk kita"

Namun perlu diingat, ketika kita gagal dalam meraih apa yang menurut kita terbaik, harap dipikirkan. apa memang kita telah berusaha sepenuh penuhnya demi menggapai hal tersebut? :)

Sekian, pengalaman 1 tahun di perantauan. Mungkin masih banyak kedepan nya yang masih saya harus hadapi dan pelajari.

This is A year of Pain. But remember, one said, No PAIN No GAIN!
Kurang lebih nya mohon maaf,
Alhamdulillah, Terima Kasih ya Allah atas segala nikmat dan rahmatmu.

You May Also Like

2 comments

  1. Super Arief =D

    Ayo lebih semangat lagi di semester 3 , Tanoshinde Ikouze ^____^

    ReplyDelete