Untuk Kamu

by - September 25, 2016

Dalam beberapa hari ini, entah mengapa, rasanya saya dibanjiri oleh pertanyaan atau diskusi.
Memang, dari sebagian diskusi itu memiliki topik yang sama seperti dulu di asrama.
Ada yang mengenai hidup, ada yang mengenai anomali dalam hidup, mengenai teman yang 'unik', mengenai worldview yang tercampur aduk, dan mengenai banyak hal lainnya seperti cinta.
Meskipun pada akhirnya, sebagian dari diskusi-diskusi yang ada tak hanya menjadi diskusi belaka namun juga jadi sarana tanya jawab.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu ada yang mengajukan pertanyaan seperti ini,

Kalo ikhwan milih calon buat dijadiin istri itu kriterianya apa aja rief? Apa selalu dia yg ilmu agamanya udah tinggi dan dia yg jilbaban lebar?

Ikhwan, bakwan kali
itulah respon pertama saya kurang lebih seperti dialog pada buku yang difilmkan di Ketika Mas Gagah Pergi,

Well, Entah ada apa, tidak ada hujan, petir maupun kilat, datang pertanyaan seperti ini. Saya juga masih belum paham mengapa saya dapat pertanyaan seperti ini.
Oh ya, untuk kita semua lelaki, memang perempuan seperti apa sih yang kalian cari?

Cantik?
Manis?
Bisa masak?
Agamanya baik?
Jilbaban lebar?

Dari beberapa kali diskusi dengan teman dari psikologi, kita semua lelaki bisa menyebutkan banyak hal kriteria, namun sadar tak sadar, menurut penelitian psikologi, umumnya perempuan yang akan kita pilih biasanya akan mirip dengan ibu kita. Well, meskipun tentu tak sepenuhnya benar (mengingat ini adalah penelitian sosial which is no 100% right answer namun sebagian besar terbukti)

Bagi saya sendiri,
Ketika mendapatkan pertanyaan pembuka dalam diskusi tersebut, yang terbayang dalam pikiran adalah,

Oh, ini sih ujung ujungnya tentang memurnikan niat untuk kemudian memantaskan diri demi lelaki tersebut.

Pertanyaan yang tak mudah dikala malam semakin malam, saya pun membalas demikian

Ya kamu dapat apa yang kamu cari. Kamu dapat apa yang memang sesuai dengan tingkatan kamu. Ga ada kriteria khusus

Toh ada ikhwan nikahin perempuan yg ga kerudung. Ada juga yg jilbab. Atau ada yg nikahin aktivis
Kan ada konsep se kufu. Kalo mau nikah dengan orang yg ga pacaran ya jangan pacaran.
Kalo mau nikah sama orang yg rajin ibadah ya muhasabah dulu, kita udah rajin belum, udah dzikir subuh belum. Dan lain hal
Sudah memahami konsep Syahadatain dengan benar belum, sudah paham apa saja yg membatalkan syahadat, dll
Banyak banget kriteria nya. 

Lantas, yang bersangkutan membalas,

Ada yg nanya ke aku tapi aku juga agak bingung. Laki2 yg baik untuk perempuan yg baik, pun sebaliknya. Tapi kalo ada perempuan yg masih belajar dan levelnya masih receh terus dia naruh harapan ke ikhwan tapi yg udah level atas. Itu mungkin ga ya rif?

Ah, ini sih pasti ada perempuan yang mulai dan sedang memperbaiki diri, dan diganggu oleh 'ia',
Lantas, bagaimana menurut kalian? Apakah salah?
Bagi saya sendiri, hal ini bukanlah hal yang salah. Namun jika niat utama memperbaiki diri adalah demi ikhwan itu, disinilah letak kesalahannya. Karena, bagaimanapun, apapun yang kita lakukan dalam memperbaiki diri tentulah kembali hanya kepada Dia. Bukankah begitu?
Maka saya balas dengan chat sebagai berikut,

Ya salahnya berharap
Dari awalnya aja udah salah, langkah apapun yang diambil kemudian akan jadi kesalahan kecil yang menumpuk menjadi besar
Memperbaiki diri kok karena orang lain apalagi ikhwan. Memperbaiki diri ya karena Allah
Ternyata diskusi ini tak selesai disini,

Mm.. Sebenernya ga gitu rif, dia itu udah mulai memperbaiki diri dari sebelum ketemu sama ikhwan itu, nah setelah mulai ada perasaan dia malah galau gegara ngerasa ga tau diri banget suka sama ikhwan itu, padahal dirinya siapa dianya siapa, tapikan masing masing orang ga bisa milih to bakalan jatuh cinta sama siapa? Nah, dia ngerasa tersiksa gitu. 

Nah, jadi gimana?
Ada perempuan yang sedang dalam proses merubah diri, kemudian jatuh cinta kepada seorang Ikhwan.
Ciee, ada yang jatuh cinta~
Karena makin geregetan, maka saya balas demikian

Puasa. Tilawah.
Itu rasa suka nya hasutan setan agar disibukkan dengan mikirin gitu, bukan tobat.
Orang ga bisa milih jatuh cinta (
ke) siapa? Bisa (bisa milih), Allah dan Allah dan Allah lagi, disusul pasangan hidup
Aku cinta istriku siapapun ia kelak dengan kelebihan dan kekurangan apapun 

Kenapa puasa? Hayo kenapa? Yuk mari kita buka lagi Al Qur'an, Hadist dan sunnahnya :)
Merasa belum puas, yang bersangkutan kemudian melemparkan pertanyaan kembali,

Tapi menurutku, meskipun kejadiannya kayak yg kamu bilang, dia berubah karna suka ikhwan itu menurutku ga masalah, selama di jalan dia mau benerin niatnya.
Yaa itukan kalo udah nikah riff๐Ÿ˜‘
Nah kalo belum?
Emang ga ada gitu ya ikhwan yg mau ngajarin istrinya pelan pelan? Atau semuanya pengennya yg udah instan? Yg udah paket komplit level atas? 

Wah, ini sih tak akan berujung. Jawaban-jawaban yang saya dapat di asrama kemudian pun muncul satu per satu namun diskusi ini nampaknya tak menuju pada akhir.

Tentu pasti ada orang-orang luar biasa disana yang dengan ikhlas menikah dengan orang yang mungkin belum pada pemahaman yang sama. Lantas ia pun berusaha menjadikan pasangannya  sebagai salah satu objek syiar-nya. 

Tapi apa semua lelaki sesiap itu? Tidak semuanya, dilain sisi, menikah dengan yang sudah sepamahaman, akan mempercepat perluasan objek syiar dan dakwah-nya. Karena kata sebagian kakak tingkat di asrama, menikah tak hanya sekedar menyatukan dua insan, namun juga menjadi sarana syiar dan dakwah kita kepada masyarakat. 

Pada akhirnya, semuanya kembali kepada sang lelaki apakah sudah siap apa belum. Bagi perempuan itu, kembali ke prinsip awal.
Jika tak siap untuk menunggu, maka majulah dan sampaikanlah, nyatakan secara langsung
 untuk menuju tahap selanjutnya. Jika ternyata tidak bisa dipersatukan dalam pernikahan, maka jangan berkecil hati.
Bukankah Allah selalu memilihkan yang terbaik untuk kita, sesuai dengan usaha dan kemampuan kita? :)

Malam sudah ingin berganti menjadi fajar, saya masih belum melihat bahwa diskusi ini akan berakhir. Saya pun berusaha menutup diskusi ini. Akhirnya, saya mencoba menutup diskusi sebagai berikut,

Jawabannya mungkin gini ya,
Salah ga?
Niat kan karena Allah. Dan berdoa dipilihkan yang terbaik jodoh nya untuk ia. 
Lantas apa?
Memperbaiki diri
Masih belum bisa nahan, gimana?
Baca Al Qur'an dan hadist beserta artinya makanya jangan dibaca arabnya aja. Solusi nya udah dikasih tau disana. Berpuasa 

Alhamdulillah akhirnya selesai juga!
Oh ya, dari berbagai macam chat yang saya sampaikan mengingatkan diri ini.

Sudah sejauh apa saya memperbaiki diri?
Sudah sejauh apa saya belajar?

Sudah sejauh apa saya mengaktualisasi diri?
Sudah siapkah?

Atau jangan-jangan, harus mundur dari lifeplan yang ada?


Jujur, semakin berusaha memperbaiki diri, ada rasa takut yang sangat luar biasa dimana bahwa ternyata diri ini belum siap dan tak akan pernah siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Saya sadar, menikah tak semudah itu. Mungkin karena tau bahwa menikah tidaklah mudah, saya dibanjiri oleh ketakutan yang luar biasa.
Apakah ini salah?
Sebuah pertanyaan yang nampaknya tidak perlu dijawab.
Terima kasih atas diskusinya sehingga menjadi pengingat akan diri ini untuk terus melangkah :)

***


Lantas, Untuk Kamu


Untuk kamu,
Maaf jika aku masih dibingungkan akan pilihan.

Untuk kamu,
Maaf jika aku terlalu lambat berlari.

Untuk kamu,
Larilah. Kejar impianmu. Karena aku, tak tentu mampu mengejarmu

Masih dengan lembaran buku yang sama, terima kasih :)



Yogyakarta, 26 September 2016
Dikala fajar mulai menyapa, ku selesaikan tulisan ini

You May Also Like

2 comments

  1. Oh ya, untuk kita semua lelaki, memang perempuan seperti apa sih yang kalian cari?

    Cantik?
    Manis?
    Bisa masak?
    Agamanya baik?
    Jilbaban lebar?

    Sungguh, topik ini ga akan ada habis2nya. Dan manusia punya jutaan jawaban ngeles buat ini semua..

    Yang katanya ikhwan dan paham soal pentingnya mengutamakan agama dibandingkan tampang, toh masih ada yg beralasan "nyari yg masih unyu2 baru ngaji aja, ntar biar bisa diajarin."
    Soalnya kalo ketemu yang sama2 aktivis, takut tersaingi lah..merasa ga sekufu lah, pendidikan ketinggian lah...adaaaa aja.
    Pun sebaliknya.

    Jodoh dan yang belum jodoh akan selalu menemukan jalannya untuk bersatu maupun berpisah.

    Yakin dan usaha aja.

    #iniakungomongapa
    #huwahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayo, ngomong apa coba?

      iya ehehehe, dari pada sibuk mempertanyakan siapa 'dia' lebih baik sibuk berproses dan memantaskan diri.

      Delete