• Home
  • Timeline
  • Books Review
  • Study Abroad
    • English Proficiency Test
    • Sweden 101
    • France 101
  • Life
    • Hijrah
    • Worldview
    • Financial 101
    • Cinta
  • About
    • Who am I
    • Catatan Kecil
facebook instagram LinkedIn

Resonansi Kehidupan

Ketika ada email masuk,

ketika liat subject dan pengirimnya, maka akan menentukan apakah perlu dibalas saat itu juga apa ga. kalo perlu dibalas saat itu juga, maka masuk tahap selanjutnya,

maka on the first 10 mins, biasanya akan baca semua email yang memiliki topik yg sama, kemudian akan mengkait-kaitkan seluruh email itu menjadi 1 kerangka.

Setelah itu, on the next 10 mins, akan berpikir bagaimana cara membalas semua email itu. Apakah perlu dijadikan 1 email, atau dipisah-pisah, siapa aja yang akan di taro di cc atau bcc, dst nya.

Setelah itu, on the next 20-30 mins, akan berusaha membalas email tersebut. Sometimes, it requires to open up some stuffs, reading some stuffs, ngebenerin dokumen yg ternyata salah, ngejawab pertanyaan, mikir, dll nya.

Last but not least, setelah itu akan dibaca ulang selama kurang lebih 5 menit sebelum dikirim.
Jadi total dari email tepat akan dibaca hingga mengirimkan balasannya hampir 1 jam xp
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Iya, selalu ada penyesalan atas apa-apa yang telah berlalu.
Namun, semua tak akan berakhir jika kita tenggelam dalam berandai-andai bukan?

Lantas, mengapa pula harus terlelap dalam penyesalan dan perandaian?


***
mengingat beberapa hal yang terlupakan
tuk dilakukan sebelum berangkat
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Entah yang sudah ke berapa kali mendapatkan pertanyaan yang sama.
Dan entah sudah ke berapa kali memberikan jawaban yang sama,
'... belum siap.'

Lantas usai menjawab pertanyaan tersebut, selalu terngiang di dalam diri,
Lantas kapan kamu siapnya, Rief?
Hal-hal apa saja yang sudah kamu persiapkan?
Sudahkah menjadi 'the better version of yourself'?

Terima kasih teman-teman semuanya atas niat baiknyaaaaa,
Mohon doanya ya biar Arief bisa segera menjawab '... aku siap' ketika kalian menanyakan hal itu lagi :)

***
December 13th, 2018
Suatu malam ketika mendapat pertanyaan yang sama
dan untuk sekian kalinya Arief kembali menolak niat baik temannya
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bonsoir!
It's been a long time I haven't written anything here.
I have been in my comfort zone. Comfort zone in which after those routines, I choose to spend my day browsing or watching social media until I fall asleep instead of writing.

Those days are over, this post is going to be the first official post since I arrived in Sweden.
I do realize that my vocabulary is a way too specialized in my field. I don't even know some basic vocabulary things for daily usage. So, here I am, I am going to use English as my introduction part from now on.

This post is going to be about how Arief survive in the first 3 months as a Moslem.
Its like I have been dreaming.
It's been 3 months already. I am here and I survived!
Also, from now on I pushed myself to finish write a post within an hour. So, yes, my post will be more messy. I'll fix it later in when I had a me-time in my Google Calendar later on :)

Arief who was staying at his comfort zone finally moved to EU. Arief yang selalu berada pada zona nyaman ga suka jalan-jalan, kini menapaki Bumi Allah bagian lainnya, Benua Eropa! In this post, I will share my story about how Arief maintain his Praying Schedule.
It will be divided into three parts: During Summer, During Winter, and his Student Life.

Summer

summer, ketika semuanya terlihat begitu berwarna

Pada saat summer, jadwal solat dapat dikatakan mirip kaya di Indonesia. Sebagai gambaran, berikut saya lampirkan jadwal Solat yang saya kutip dari Masjid Aysha Stockholm:


Nah, dapat dikatakan memang secara umum saat summer, waktu solat di Stockholm masih aga mirip-mirip sama Indonesia. Ketika summer, dari waktu solatnya dan jarak antar waktu solat masih aga mirip sama Indonesia. Meski tentu ga sepenuhnya mirip sih ehehe. 

Saya sampai di Stockholm itu tanggal 1 Agustus. Coba lihat jam solat Subuh dan solat Isya nya. 
Solat Subuh dimulai jam 03:00 dan Solat Isya dimulai jam 22:38. Awalnya saya pikir tidak akan semalam dan sepagi itu solatnya. Ketika dapat notifikasi dari aplikasi kalo waktu solat itu malem banget, maka saya cari waktu solat hasil kesepakatan asosiasi di sini. Dan ternyata memang malam banget.

Sejujurnya ketika awal-awal dateng ke Stockholm, jam biologis tubuh masih sangat-sangat kacau. Satu dua hari pertama, beberapa kali sulit sekali untuk solat tepat waktu terutama solat Isya dan Subuh.
Terkadang solat Isya nya itu jam 2 atau jam 3 mepet dan solat subuhnya jam 3an.
Terkadang, solat Isya nya dapet tepat waktu tapi subuhnya mepet banget sama shuruq nya.

Sulitnya pake sulit banget...
Suliiit banget, udah pake alarm udah pake adab mau tidur tapi jam biologis masih banget-banget kacau. But as summer goes on, jam solat mulai bergeser yang beneran mirip kaya Indonesia. Dari Masjid Aysha juga, ini waktu solat bulan September lalu ketika akhir summer,


Dapat dilihat waktu solat semakin membaik. Waktu solat memberikan ruang bagi saya untuk solat ketika break makan siang, Isya yang lebih awal sehingga ga tidur lebih malam, dan subuh yang ga terlalu pagi sehingga mendapatkan kualitas tidur yang baik.

At the beginning, I assure you that it is not going to be easy to adjust your biological clock.
As the time goes on, you will adapt kok. Dinikmati aja sebagai bagian dari perjuangan menuntut ilmu :)

Secara umum, saat summer, pada awal sangat sulit sekali solat dzuhur dan isya (dan/atau subuh).
Solat waktu dzuhur sulit tepat waktu karena pada saat awal summer solatnya jam 1pm an. Jadi ketika ada kelas jam 1pm, baru bisa masuk kelas jam 01:15pm. Untung ada academic quarter.
Ketika solat Isya, aga susah juga di awal awal. Soalnya di awal-awal, waktu Isya nya malem banget. Jadi aga susah buat dapet kualitas tidur yang baik wkwk.

But as time goes on, as i said, waktu solat akan bergeser dan tubuh kita akan menyesuaikan. Sejujurnya, summer adalah waktu ternyaman dari sisi waktu solat, jarak antar waktu solat, dan kualitas ibadahnya.

Jarang terjadi bentrokan antara ibadah dengan agenda akademik. Kalaupun bentrok, solatnya bisa dilakukan sebelum, ketika break, atau setelah kelas tanpa khawatir waktu solatnya telah habis. Waktu solatnya pun terletak 'cukup strategis' jika dikatakan dalam perspektif jam kuliah.

Solat Jumat pun tidak jadi masalah karena waktu yang dibutuhkan dari kelas ke main campus sekitar 23 menit jalan kaki. Jadi masih ke kejar solat di main campus dan abis solat langsung balik lagi ke kelas. Total bisa sekitar 1 jam bolak balik dan solat jumat. Jadi praktis hati tenang karena jam nya matching :)


Autumn dan Winter

winter, ketika semua terlihat begitu gelap dan pucat.

Ketika tulisan ini ditulis, dapat dikatakan sudah berada pada peralihan Autumn akhir menuju Winter awal. Dapat dikatakan, di sini lah ujian terberatnya. Karena selain waktu solat semakin bergeser lebih awal, jarak antar waktu solat juga semakin mengecil. Jadi singkaaaat banget jarak antar waktu solat.

Dari Masjid Aysha juga, ini waktu solat bulan November,


Pertama bersyukur karena waktu subuh ga terlalu pagiiii banget. Jadi jam 5an kurang dikit bisa jalan ke Masjid di deket apartemen.
Tapi... tantangan lainnya silih berganti hadir.
Yakni waktu solat Dzuhur dan Ashar nya sangaaaat mepet dan waktunya kurang tepat gituuu. Begitu juga solat Maghrib nya.

Sebagai contoh kalo ada kelas jam 12.
Biasanya waktu-waktu terakhir itu berupa conclusionnya. Jadi sangat sulit untuk ditinggalkan. Jadi... biasanya menunda solatnya sampai selesai kelas jam 12 dari yang seharusnya jam 11:40an. Baru deh solat.

Kemudian, solat Ashar jam 12:40an. Jadi jaraknya cuma sekitar 1 jam an. Padahal setelah selesai kelas itu kadang masih ada diskusi dan lain hal. Jadi sulit banget dapet kesempatan solat yang bener beneran dinikmati dan khusyu gitu.

Selain itu... saat Autumn dan Winter, solat Maghrib dan Isya jadi lebih majuuuu banget.
Hal ini sangat-sangat bikin solat jadi keburu-buru banget terutama ketika praktikum. Secara umum, praktikum di sini 5 jam. Jadi ketika mulai praktikum jam 8 pagi, maka akan selesai jam 1 siang.
Ketika mulai jam 1 siang, akan selesai jam 6 malam.

Dari kedua skenario, ketika autumn dan winter, waktu solat jadi sangat-sangat dapat dipastikan akan tabrakan. Mau ga mau harus izin ke TA atau professornya buat keluar kelas sebentar. Mau ga mau meninggalkan teman sekelompok dan ketinggalan materi.

Hal-hal tersebut yang sering membuat solat rasanya ga tenang banget. Rasanya ingin cepet selesai dan lari ke lab buat lanjutin praktikum. Soalnya praktikumnya bukan praktikum yg bisa di handle sendirian gituuu. Jadi ketika partnernya izin ke luar, praktis partner yg di lab belum bisa ngapa-ngapain sampai partnernya kembali ke lab lagi.

Ketika hari Jumat tantangan pun semakin meninggi. Waktu Dzuhur 11:40 sedangkan solat Jumat di kampus mulai jam 12:15 (mulai khutbah, jam 12:25an selesai). Jadi dapat dikatakan praktis Arief tidak mampu mengejar solat di main campus. Jadi harus ke masjid terdekat.

Nah dari selesai jam 12:00 itu Arief langsung lari ke luar kelas, ke halte bis buat naik bis. Rata-rata perjalanan itu sekitar 15 menit ke masjid. Setelah sampai di masjid langsung naro tas dan biasanya udah hampir banget dimulai. Dapat dikatakan praktis Arief tidak dapat mendengarkan khutbahnya...

Jadi... ya gitu deh tantangannya ehehehe.
Untungnya Masjid Aysha tergolong masjid yang mulai solatnya jam 12:40an sehingga Arief masih bisa ngejar solat Jumat meski cuma dapet solatnya aja ehehe. Daripada ga dapet sama sekali kan ehehe. Bersyukur aja.

Begitulah waktu solat ketika autumn dan winter ^^

Kuliah, Waktu Solat, Kelas, Diskusi, dan lain hal

Dari berbagai alasan memilih tahun pertama di Swedia adalah lingkungan yang sangat-sangaaaaat nyaman banget buat belajar. Ga cuma lingkungan dalam arti Stockholm, tapi juga suasana berkuliah, dosen, masyarakat, dan seluruhnya deh pokoknya.

Mereka menghargai satu-sama lain mau sukunya apa kek, agamanya apa kek, rasnya apa kek, pokoknya say no to SARA.
Mau ga minum ketika party, ya oke
Mau izin break sebentar ketika lab work, ya oke
Mau izin pulang duluan ke professor buat ngejar solat jumat, ya oke
Bahkan pernah saya izin telat banget masuk kelas (telat 1-2 jam an apa ya pas izin di email, jadi cuma ikut kelas 30 menit an aja) demi dapet solat Ied. Professor pun sangat-sangat welcome.

Semuanya oke selama dikomunikasikan baik-baik di awal sehingga tidak menimbulkan salah paham.
Iya, komunikasi. Jadi inget Mas Adi, supervisor RK saat di asrama dulu. Semuanya bisa dikomunikasikan. Begitu juga terkait ini.

Jadi ketika awal-awal berinteraksi, saya menjelaskan status saya sebagai muslim ke kolega, staff, Teacher Assistant, dan Professor, dan berbagai pihak yang terkait. Mereka sangat welcome terhadap hal tersebut.

Tentu ada hal-hal yang menjadi konsekuensinya kaya,
Temen praktikum jadi terganggu,
Ketinggalan materi, dll.

Karenanya professor biasanya mengingatkan untuk mencari rekan praktikum yang beneran tidak keberatan ketika partnernya izin di tengah-tengah lab atau group work atau kelas buat solat sebentar. Alhamdulillah juga selalu dapet partner yang pengertian :')

Dibalik berbagai tantangan mengenai waktu solat, harus ku akui, dapat dikatakan, tidak pernah sama sekali meninggalkan waktu solat karena alasan akademik selama semuanya direncanakan dengan baik.

Iya, semuanya harus direncanakan dengan baik banget-banget-banget.
Jadi kembali lagi ke masa-masa seperti asrama, seluruh agenda, waktunya, tempatnya, transisinya sudah tercatat baik di Google Calendar. Begitu juga waktu solat dan tempatnya, waktu jalan dari kelas ke Masjid, waktu istirahat, waktu ngesosmed, waktu leha-leha bahkan hingga waktu tidur dan lain halnya sudah masuk di agenda.

Terutama saat masa-masa winter gini, agendanya sangat-sangat-sangat ketat dan ga boleh melenceng sedikitpun. Harus strict dan jahat terhadap diri sendiri.
Dengan menerapkan agenda yang strict itu, Alhamdulillah kualitas ibadah semakin hari semakin lebih baik lagi dari pada sebelumnya.

Last but not least, mengenai waktu solat, dapat dikatakan 3 bulan ini saya belajar cukup banyak. Kita terkadang lupa bersyukur atas berbagai nikmat yang kita terima ketika tinggal di negara yang mayoritas Islam. Kemudahan dan kenikmatan beribadah merupakan salah satu nikmat yang sering terlupakan. Setelah 3 bulan di sini, hal tersebut yang terasa sekali. Terutama nikmatnya beribadah.


Sebagai pengingat...
Sebuah cerita,
Ketika kelas, Arief terlihat mengantuk dan sering menguap berkali-kali.
Lantas setelah selesai kelas, Arief ditanya dengan temannya.
'Why are you so sleepy and cant focus during the class?'
Arief menjawab dan menjelaskan kalo waktu solatnya jam 10pm an (ketika awal-awal summer), jadi tidurnya kurang berkualitas

Lantas taukah apa respon dia?
'No offense, but you should not make an excuse like that. You should realize that you need to compensate your performance during class because you are a moslem. You need to adjust yourself faster than the others'

Dari situlah Arief mulai sadar dan bertanya pada diri sendiri.

Sudahkan Arief adil sejak pikiran?

Padahal, seorang terpelajar haruslah sudah adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan
~Bumi Manusia

***
November 25th, 2018
Besok punya student-led debate
Tapi karena harus strict sama agenda sendiri,
akhirnya rehearse debate nya ditunda ke besok pagi
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Hai, mari kita aktifkan kembali blog ini setelah berbulan-bulan menjadi sarang laba-laba.
Dengan post ini maka secara tegas Arief menyatakan untuk memusuhi Instagram, Youtube, dan berbagai sosial media lainnya sebelum posting-posting yang kemarin-kemarinnya terkejar.

Saya sadar bahwa berbulan-bulan ini saya berada pada zona nyaman. Zona nyaman untuk tidak menulis dan lebih memilih untuk menghabiskan spare time untuk istirahat sambil sosmed hingga tertidur.

For those who want to contact me, feel free to text me through WhatsApp! :)


---
Albanova Library,
Autumn telah datang
Selamat tinggal matahari :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Setelah melewati hari-hari awal yang berat, maka pada bagian ini akan menjelaskan perjalanan 1 bulan pertama di Stockholm secara singkat wkwk.

Academic English Course

Setelah mengalami masa kelam karena academic writing saya sangat-sangat-sangat jelek, akhirnya dulu memutuskan buat ikut kelas academic english course. Sederhananya kita belajar menggunakan bahasa inggris di academic environment. Dari sini belajar kaya jaman SD dan SMP dulu wkwk.

Kami diajarkan menyusun paragraf yang baik, penggunaan kata-kata, kata sambung, dan berbagai macam hal lainnya. Menurut saya pribadi, ini course rekomen banget deh bagi yg belum terbiasa menggunakan bahasa inggris dalam lingkungan akademik!

Dengan mengambil course ini, alhamdulillah academic writing saya jadi lebih baik. Terbukti di Study Period 1 dan 2 belum pernah dapet komentar terkait teksnya (mainly about the use of particle and the content) while the others not. Format belajar mengajarnya juga asik banget kok!

International Reception

International Reception dapat dikatakan sebagai sarana mengenalkan student terhadap lingkungan Stockholm. Agendanya berbagai macam dari buddy meeting, pub party, tour, bbq, dan banyaaaak banget. Intinya ini sekumpulan acara gituuu.

Seru banget, sayangnya daftarnya berebutan. Jadi harus daftar dari jauh-jauh hari. Ada yang gratis ada yang engga. Dulu seingetku, ku daftar di berbagai tour gitu. Lumayan ngisi waktu luang sebelum kuliah wkwk.

Transportasi

Di Stockholm, public transportation terintegrasi dalam suatu platform yang disebut SL. Berbagai moda transportasi dari Subway, Bus, Ferry, Light Rail, etc. Dengan memiliki tiket SL, kita bisa menggunakan berbagai moda public transportation di Stockholm.

Tiket yang bisa dibeli pun beragam. Ada yang single trip hingga ada yang subscription 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun. Terkhusus untuk student ada discount gitu. Perbedaannya lumayan. Hingga tulisan ini ditulis, harga tiket umum untuk subscription yang 1 bulan adalah 950kr (Rp 1,520,000 dengan kurs Rp 1,600 /kr) dan 550kr untuk student (Rp 880,000 /kr untuk kurs yg sama). Dengan menggunakan subscription bulanan ini, kita sudah bisa mengakses seluruh moda public transportation sepuasnya wkwk.

Teruntuk daily commuting, saya sering menggunakan subway untuk 1 bulan pertama. Jadi dari Kista ke T-Centralen (semacam stasiun transit). Setelah itu ganti subway ke Tekniska Hogskolan (stasiun subway deket main campus). Total perjalanan jika ga pake nunggu di tempat transit sekitar 30-35 menit.

Dari berbagai moda transportasi yang pernah saya gunakan, dapat dikatakan bersih, jarang banget penuh (arief belum sadar saat itu), jarang gangguan dan telat (selain light rail aka pendeltag). Nah khusus Pendeltag, terkadang ada gangguan gitu. Entah gangguan sinyal atau treknya tertutup salju atau entah apa lagi. Untungnya saya ga menggunakan moda itu untuk ke kampus.

Kuliah

Kuliah di sini sudah teratur banget-banget-banget. Jadi, sebelum kuliah dimulai, schedule kuliah udah di post. Jadi kita bisa mengintegrasikan jadwal kuliah, quiz, lab, dll itu ke hp kita. Pada jadwal itu, akan terletak agendanya (lecture kah, quiz kah, atau apapun itu), lama waktunya, dan lokasi kelasnya.

Lokasi kelas penting untuk menjadi catatan. Karena kuliah di sini kita menggunakan sistem 'gedung bersama'. Jadi bisa aja kelas kita cukup jauh dari gedung utama kita kuliah. Semuanya harus diperhatikan. Untungnya untuk rumpun nuklir, semuanya di komplek Albanova. Jadi ga terlalu jauh jalannya sampe harus ganti gedung wkwk

Apartemen

Setelah kasus apartemen yang kotor itu, sebagian kami nge report deh ke KTH Accommodation. Mereka dapet kompensasi berupa pemotongan invoice. Saat itu saya sangat malas ngurusnya wkwk. Jadi ga ngelapor deh.

Meski demikian, ketika pulang, tau-tau kamar saya bersih banget-banget-banget. Ga ada debu, kaca udah di lap, semuanya pokoknya serba bersih dan teratur. Jadi meski ga dapet kompensasi, saya merasa bersyukur udah dibersihin. Soalnya repot banget kalo ga dibersihin.

Makanan Halal

Tentu kita tidak diperkenankan makan makanan kaya babi, alkohol, etc. However, when it comes to pemotongan, pengolahan makanan, penyimpanannya, administrasi bisnis, dll tiap muslim bisa berbeda-beda. Ketika membahas 'makanan halal', tiap orang bisa memiliki standarnya masing-masing terkait 'makanan halal'.

Ada sebagian dari kami yang menggunakan pendekatan 'tinggal di negara sebagai minoritas' sehingga ketika acara dan tidak menemukan makanan yang memang certified halal, ia tetap mengkonsumsi makanan tersebut as long as tidak mengandung babi, alkohol, rum, dan lain-lainnya yang sudah jelas dilarang. Ada juga sebagian dari kami yang sangat strict dengan apa-apa yang ia makan. Ia ga mau makan-makanan yang tidak jelas asal muasalnya, dll.

It depends tho. Secara singkat saya membeli seluruh makanan saya (kecuali susu, jus, dan buah) di toko Kista Grossen gitu. Kista Grossen seperti toko-toko timur tengah gituuu. Menurut dugaanku, hampir seluruh produknya halal.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Hai!
Jadi setelah perjalanan yang panjang dan proses penantian yang melelahkan di Doha (transit 10 jam an euy), akhirnya tiba lah diri ini di Arlanda, Stockholm.

They said Stockholm is a state of mind. the photo is taken from source [0]
Jadi setelah sampai di Arlanda, kita melewati imigrasi seperti biasa. Di sini, nanti akan dibagi menjadi dua queue terpisah. Umumnya 1 buat yang EU citizen satunya lagi yang bukan. Setelah itu kami ngantri cukup panjaaaang. Setelah kebagian, sama officernya ditanya kartu Residence Permit dan Passport.

Berbeda dengan cerita saat di Jepang (yang sampe ada interogasi 'kecil'), kali ini disambut dengan pertanyaan ramah,

'Is it your first time flying to Sweden?'
yes
'Okay, great! Hows your preparation for study?'
im very nervous, sir. wish me luck
'Yeah, you do! Good luck!'

Begitulah kurang lebih proses di imigrasi wkwk. Oh ya, karena biasanya aga sensitif, makanya di bagian cek imigrasi ini ga ngebuat dokumentasi wkwkwk.

Setelah melewati imigrasi, bergerak lah menunggu bagasi. Dari sini mulai banyak semacam 'pameran' gitu. Berisikan well known figures yang berasal atau pernah tinggal di Swedia.

Berikut muka setelah penerbangan panjang,
muka lelah abis penerbangan panjang. mukanya masih bulet banget yak wkwk
Setelah menunggu baggage, kami mulai bergerak mencari Arrival Day service. Arrival day service pada dasarnya adalah fasilitas yang diberikan oleh KTH dan beberapa universitas lainnya di Stockholm. Fasilitasnya berupa free SIM Card (1GB data plan), transportasi dari Arlanda Airport ke KTH Entre untuk mengurus berbagai administrasi, dan dapet bed kit wkwk.

Sebelum ke luar bandara, sebagian dari kami ke ke rest room. Ada yang memang ingin ke rest room ada juga yang memang karena ingin ngisi air di botol.
Oh, iya, di sini semua tap water aman dikonsumsi secara langsung, unless told otherwise.

Setelah itu kami keluar dan mencari kumpulan rekan-rekan mahasiswa KTH.
Dan hmm... Kesan pertama yang terpikirkan setelah keluar bandara adalah:

ini gue di Jakarta apa di Stockholm sih?

Sederhana, namun memang itulah adanya :))
Kesan ini timbul karena ketika merasakan cuaca Stockholm. Saat itu, cuacanya berada pada rentang 30 C...

Cuaca Stockholm di awal Agustus, 2018 [1]
Sungguh tidak berbeda jauh dengan Serang wkwk.
Karenanya ketika pertama kali dateng dan keluar dari Arlanda Airport, ku langsung buka sweater lantas hanya menggunakan Polo saja.

Setelah mencari, akhirnya kami menemukan rombongan International Students.
Kemudian setelah menunggu yang lain, berangkatlah kami menuju bisnya.
iya, bisnya beda sama yg di halaman KTH - Arrival Day Service. Bis yg di page itu lebih keren :( bacaannya 'International Students - We are just arrived!'
Kalo di liat-liat dan di inget-inget, dari penataan bis, parkiran, airport train, dll nya, ternyata ARN ini menurutku aga mirip sama NRT. Apa hanya sebuah intermezo saja? Entahlah wkwk~

Setelah itu, kami ngantri naik bis. Saat masuk bis kami diberikan kartu operator sini. Kalo tidak salah operatornya Hallebop. Namun lupa angka pastinya berapa GB data plan nya. mungkin 1 GB.

Setelah itu, kami naik bis menuju KTH Entre.
Perjalanannya dapat dikatakan cukup lama, sekitar 1 jam lebih.
Kemudian sampailah kami di KTH Entre. Kalo ga salah sekitar jam 9an kurang sedangkan ia baru buka jam 9.
di sini kita dapet semacam sticker gitu buat penanda barang bawaan.
Ketika memasuki KTH Entre, kami mengantri terlebih dahulu untuk menitipkan berbagai barang bawaan. Tentunya ini sangat-sangat membantu wkwk.
Jadinya ga ribet gitu loh ke mana-mananya

Setelah itu kami naik ke tangga disebelahnya itu buat ngurus administrasi dengan kampus.
Urusan administrasi yang perlu diurus itu 2 hal:
1. Aktivasi akun KTH
2. Tanda-tangan dan serah terima kunci Apartemen

Jadi kami ngambil nomor antrian untuk dipanggil. Setelah dipanggil, kita akan diminta identification (passport). Setelah itu akan disambi buat ngebuat akun KTH sama ngambil kontrak akomodasi.

Akun KTH ini yang kedepannya bakal kita pake buat segala macem. Dari login ke portal belajar, email, ngeprint, ngescan, dan berbagai macam hal lainnyaaa. All in one deh kasarnya wkwk.

Kalo terkait akomodasi, kita tinggal tanda tangan kontrak. Isi kontraknya udah diberikan via email beberapa waktu yang lalu ketika di Indonesia. Jadi pas di sana cuma ngecrosscheck isinya ada yg berubah apa engga. Kemudian kita dikasih kunci apartemen deh.

Setelah mengurus berbagai macam dan selesai, kami turun. Di sanalah kami bertemu kakak-kakak yang kece dari PPI Stockholm :3


persis di depan KTH Entre. yang biru-biru itu semacam penyaring gitu ya [2]
Nah, ini dia rombongan pertama Kampung Kista bareng kakak-kakak PPI Stockholm :3

Kalo diliat-liat, itu ada tas biru kan ya.
Nah tas biru itu merupakan salah satu fasilitas Arrival Day yang dibilang di awal. Di tas biru itu isinya basic bedding kit gituu. Jadi dapet selimut sama bantal. Lumayan~

Dengan telah sampainya kita ke KTH Entre dan tuntasnya urusan administrasi, maka usai sudah serangkaian fasilitas Arrival Day. Selanjutnya, kita ditemenin kakak-kakak kece buat melanjutkan perjalanan pulang. Ke rumah baru, Kista~

Di Stockholm, kita memiliki public transportation yang baik i would say. Semua moda transportasi publik terintegrasi dengan baik. Kita hanya perlu bawa 1 ke mana-mana. Dengan memiliki kartu SL dan memiliki paket bulanan, kita bebas menggunakan moda transportasi sepuasnya.

beginilah penampakan SL Card [3]
Sebelum membeli kartu SL, kami melakukan penarikan uang tunai cash. Semacam uang jaga-jaga in case something happen. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin saya ga akan ngambil uang cash wkwkwk.

Awalnya mau ngambil uang cash dengan dugaan bahwa sekali ngambil cash itu kena potongan 25k. Jadi daripada ngambil berkali-kali, mending langsung ambil sekaligus. Nah... ternyata ini keputusan yang kurang bijak wgwg.

Jadi, kasusnya buat Bank CIMB, BNI, dan BCA (sampai tulisan ini dibuat), kita tidak terkena charge apapun ketika ngambil uang di ATM sini. Dengan kata lain, ya... sama aja kaya ngambil uang. Namun nanti saldo IDR kita akan dikonversi dengan kurs yg ditawarkan oleh bank yang kita pake. Terus karena di sini cash less banget, jadi berasa aneh aja kalo bawa uang cash wkwk.

Perjalanan dari Main Campus ke Kista memakan waktu kurang lebih 38 menit. Masih teringat momen-momennya euy, waktu itu masih mencoba menyadarkan diri kalo emang beneran udah di Swedia wkwk.

Sampailah di Kista...
So basically, we live above a mall!

Masuklah kita ke apartemen...
Jadi setelah cek kamar, ternyata... penghuni sebelumnya sangat-sangat-sangat jorok banget-banget-banget.
Jadi kamar ditinggalkan dalam keadaan tidak layak huni. Jadi kotor banget, berdebu, bau, dll.
dapat dilihat, itu sebelah pojok puntung rokok, terus kotor banget dan jijik banget asli
ini isi lemari, liat kotor dan kumuh banget
bahkan microwave kotor banget itu ya ampun :(
banyak benda asing yang tak bisa digunakan dan tak jelas apa gunanya
kotor banget. seandainya ada kecoa, mungkin udah beranak pinak kali ya :(
Terlepas dari berbagai keterbatasannya, ya... namanya juga berhijrah. Jadi ga boleh ngeluh :p
Afterall, Kista menurutku strategis dan nyaman banget. Pembahasan mengenai ini terpisah nanti ya!

So... Setelah liat kamar-kamar kami dan naro barang, kami diajak tour sama Mas Agam dan Mba Anjari buat ngeliat mall dan beberapa hal penting lainnya, kalo mau beli A di sana, B di situ, dan lain hal. Tentunya sudah mempertimbangkan harganya :p

Kemudian setelah itu, berpisahlah kami. Saya langsung menuju Kista Grossen buat membeli makan siang. Laper banget asli wahaha. Karena belum ada peralatan masak di kamar, jadi cuma beli roti...

Setelah makan, solat deh.
Setelah solat... Yup, istirahat. Its a long day, lets call it a day.

***


Hi Stockholm!
Lets call it a day for now,
and yes, I am starting to love you even more~

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Dasarnya emang anak layangan, terkadang suka gagu diajakin hal-hal yang baru
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me





Nuclear Engineer in the making
[MSc] Nuclear Energy Engineering - KTH Royal Institute of Technology
[MSc] Nuclear Plant Design - ENSTA ParisTech


recent posts

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates