• Home
  • Timeline
  • Books Review
  • Study Abroad
    • English Proficiency Test
    • Sweden 101
    • France 101
  • Life
    • Hijrah
    • Worldview
    • Financial 101
    • Cinta
  • About
    • Who am I
    • Catatan Kecil
facebook instagram LinkedIn

Resonansi Kehidupan

PEMBUKA

Kategori English Proficiency Test merupakan sebuah seri untuk mengenal, memahami, memilih, dan mencapai nilai yang ditargetkan pada blog ini. Perlu dipahami, saya sangat-sangat merekomendasikan untuk membaca Kategori English Proficiency Test berurutan (part 1, part 2, part 3, dan part 4). Dengan demikian teman-teman dapat memahami seutuhnya.

Sebelumnya telah dibuat artikel dengan judul 'Which English Proficiency Test you should take? #3/4'. Pada bagian #3, kita telah memahami apa-apa saja yang perlu dipertimbangkan untuk memilih English Proficiency Test. Pada bagian ini juga telah dibahas TOEFL iBT vs IELTS. Nah teruntuk yang belum baca bagian #3 nya, silahkan dibaca dulu ya sebelum baca lebih lanjut.

Setelah bagian #3 selesai, maka sekarang akan masuk ke bagian #4. Pada bagian ini, kita akan memahami persiapan yang perlu dilakukan untuk mencapai nilai yang ditargetkan. Layaknya bagian #3, bagian #4 merupakan artikel yang dibuat berdasarkan pendapat dan pengalaman penulis. Jadi wajar jika sekiranya terdapat perbedaan pendapat dengan teman-teman :)

Jadi pertanyaannya kan, apa aja sih persiapan yang diperlukan untuk EPT?
Jawaban singkatnya ada 2:
1. Belajar
2. Latihan

Jawaban panjangnya dibagi berdasarkan prosesnya:

PERSIAPAN

1. FOKUS

Fokus (https://www.ciarciar.com/fokus diakses pada 11 Agustus 2018)

Pertama, perlu kita sadari kembali bahwa EPT itu tidaklah murah karenanya harus serius dalam mempersiapkannya. Sebagai ilustrasi, saya lulus November dan berusaha menyicil belajar TOEFL iBT dari Oktober sambil ngerjain berbagai kerjaan dari asisten riset, ngurus berkas yudisium, ngurus revisi, ngurus komunitas, dan lain hal. Dari bulan Oktober hingga November saya mendapati diri ini hanya melangkah sedikit dari keadaan awal. Bahkan dapat dikatakan progress nya tidak ada sama sekali.

Teman-teman akan sangat-sangat sulit dan sangat-sangat tidak maksimal dalam persiapannya jika masih 'menyambi' ngerjain yang lain. Karenanya, saya sangat sarankan ketika sudah menetapkan pilihan untuk mempersiapkan diri buat EPT, maka kesampingkan berbagai urusan lainnya. Posisikan diri teman-teman pada saat jaman SBMPTN dahulu, di mana kerjaannya hanya belajar-istirahat-ibadah dan terus berulang.

Ingat, dalam setiap perjalanan hidup akan hadir berbagai pilihan dan untuk tiap-tiap pilihan yang diambil, akan selalu ada pilihan yang ditinggalkan. Pertimbangkan ini baik-baik saat sudah masa persiapan dan ada agenda yang tabrakan (kumpul sama teman, main, organisasi, dll).

2. FORMAT SOAL

Karena teman-teman sudah sampai pada bagian artikel ini, saya berasumsi teman-teman telah tuntas membaca bagian #1, #2, dan #3. Kembali coba pahami format soal dari EPT yang kalian pilih lebih detail (bisa baca buku-buku yang saya rekomendasikan di artikel bagian #1 dan #3. Pada buku tersebut telah dibahas secara detail apa yang sebenarnya ETS maupun British Council akan uji dan bagaimana cara mengujinya. Dengan mengetahui ini, maka teman-teman dapat secara spesifik meningkatkan kemampuan berbahasa inggris sesuai dengan 'yang akan diujikan' ketimbang secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan ketika kepepet hehe.

Dengan memahami format soal tersebut, teman-teman akan memahami bagian mana saja yang sekiranya merupakan bagian terlemah serta bagaimana cara untuk beradaptasi sesuai dengan background inggris teman-teman.

3. PRE-ASSESSMENT

Setelah menetapkan hati untuk fokus persiapan dan memahami secara detail format soal dari EPT yang dipilih, maka langkah selanjutnya adalah melakukan Pre-Assessment atau pre-test. Silahkan gunakan free-sample dari ETS atau British Council. Ingat, free sample merupakan Authentic Test. Dengan melakukan pre-test menggunakan authentic test, teman-teman akan mendapatkan gambaran tingkat kesulitan soal dan kondisi saat tes nanti.

Sebagai contoh, jika mengambil TOEFL iBT, pahami kembali real-test condition (kondisi tes kelak seperti apa) kemudian download software free sample nya di ETS. Silahkan gunakan headset yang memiliki microphone. Silahkan jalankan aplikasinya dan kerjakan soalnya di laptop atau komputer. Untuk bagian speaking, jangan lupa merekam response teman-teman menggunakan microphone. Silahkan minta teman-teman yang sudah pernah ikut TOEFL iBT untuk menilai bagian speaking dan writing teman-teman. Umumnya free sample akan ada sekitar 2-3 set authentic test. Silahkan dikerjakan keduanya.

Bagi yang memilih IELTS Academic Test, silahkan download free sample nya dari British Council kemudian dicetak dan silahkan kerjakan di kertas. Pada bagian speaking dan writing, silahkan ajak teman yang sudah pernah ikut IELTS untuk menilai teman-teman.

Dari pre-test ini kemudian akan didapati nilai perkiraan.

4. UNDERSTANDING YOUR WEAKNESS

Setelah melakukan pre-test, teman-teman akan mendapati nilai awalnya. Nah nilai awal ini kemudian dibandingkan terhadap nilai persyaratan berbagai rencana yang telah teman-teman buat (lihat artikel bagian #3 untuk penjelasan lebih lengkap). Dengan membandingkan nilai pre-test terhadap persyaratan tertinggi dari rencana yang telah dibuat, teman-teman akan mendapatkan gambaran berapa score total yang harus ditingkatkan, bagian mana yang masih perlu ditingkatkan, dan bagian apa yang paling mudah ditingkatkan untuk mengejar score total target.

Sebagai contoh, berikut adalah hasil simulasi awal TOEFL iBT :

Reading: 20/30
Listening: 19/30
Speaking: ~21/30
Writing: ~20/30
Total= 80

Misalnya target tertinggi (KTH Royal Institute of Technology)
Persyaratan: 90 dengan writing minimal 22 dari 30.

Dari hasil simulasi diketahui bahwa nilai totalnya masih kurang dari syarat tertinggi dari berbagai rencana yang telah dibuat, khususnya writing dengan score minimal 22 sedangkan yang dicapai hanyalah 20. Dengan mengetahui bahwa nilainya masih kurang, maka teman-teman dapat menentukan bagian mana yang harus ditingkatkan dan memerlukan waktu belajar yang sangat intens dan bagian mana yang waktu belajarnya tidak perlu intens.

Perlu diingat ini hanyalah simulasi tes, bisa saja performa teman-teman saat tes turun sehingga mendapat nilai rendah. Karenanya teman-teman jangan pernah menargetkan score hanya lebih sedikit dari persyaratan. Jika persyaratan nilai total 90 (7.0-7.5 untuk ielts), maka coba targetkan score teman-teman sekitar 105 (8.0-8.5 untuk IELTS) dengan writing 25 (atau 8 untuk IELTS).

Silahkan teman-teman menentukan bagian mana yang sekiranya yang lebih mudah dinaikin. Bagian yang teman-teman pilih dapat disesuaikan dengan background kemampuan bahasa inggris teman-teman. Sebagai contoh, sebagian test taker ada yang memiliki kecenderungan memiliki kemampuan berbahasa inggris yang baik namun pasif. Dengan demikian, bagi mereka akan lebih mudah untuk menaikan score di bagian Reading dan Listening dibandingkan menaikan score pada bagian speaking maupun writing.

Dengan demikian, test taker dapat berfokus untuk menaikan score pada bagian Reading dan Listening yang intens disusul dengan writing (karena ada nilai minimalnya) baru diakhiri bagian speaking.

Sebagai contoh, berikut target score TOEFL iBT:

Reading: 29/30
Listening: 29/30
Speaking: 22/30 (lihat, targetnya tidak tinggi karena berfokus pada reading, listening, dan writing)
Writing: 25/30
Total= 105

5. PLAN BELAJAR

Setelah mengetahui kekurangan teman-teman pada bagian tertentu dari EPT, maka teman-teman dapat memiliki gambaran berapa waktu yang dibutuhkan untuk belajar sehingga dapat mencapai target score yang diinginkan. Ingat, score yang baik adalah score yang sesuai dengan target dan kebutuhan bukan score yang tinggi.

Setelah menentukan waktu persiapan (sekian hari atau minggu atau bulan), saatnya menyusun rencana belajar. Rencana belajar harus disusun sesuai dengan target yang teman-teman buat. Jika seandainya teman-teman sudah mencapai score yang sesuai target pada reading dan listening sedangkan masih rendah di speaking dan writing, maka waktu belajar bagian speaking dan writing harus jauh lebih intens lagi. Jangan lupa cantumkan juga target tanggal tes (silahkan buka artikel bagian #1 untuk mengetahui tanggal-tanggal pelaksanaan masing-masing tes di berbagai lokasi).

Jika hasil simulasi menunjukan kemampuan rendah pada seluruh bagian, saya rekomendasikan teman-teman menggunakan Magoosh One-Month Study Schedule (TOEFL iBT dan IELTS) jika waktu persiapannya 1 bulan. Jika teman-teman merasa butuh lebih dari 1 bulan untuk belajar, maka panjangnya Study Schedule tersebut dapat disesuaikan dengan waktu persiapan yang teman-teman butuhkan.

6. BELAJAR + LATIHAN

Selamat belajar dan latihan!
Ingat persiapan ini harus dilakukan serius dan fokus. Pada bagian ini teman-teman dituntut untuk membiasakan diri dalam lingkungan berbahasa inggris. Coba paksakan diri untuk selalu menggunakan bahasa inggris dalam sehari-hari. Mulai dari tiap mau beli makan di burjo, coba pikirkan dalam otakmu apa yang harus kamu tanyakan, apa yang harus kamu sampaikan dalam bahasa inggris. Simulasikan semua hal yang ada dipikiranmu dalam bahasa inggris. Dengan membiasakan diri berbahasa inggris harapannya teman-teman akan lebih responsif dan ga kaget pada saat tes kelak.

Saya memiliki beberapa rekomendasi terkait tahapan ini:
1. Beli buku yang saya rekomendasikan dari artikel bagian 1 dan bagian 3*
2. Download dan cetak seluruh buku gratis dari Magoosh (entah itu TOEFL iBT atau IELTS)**
3. Download aplikasi TOEFL iBT Vocabulary Flash Card atau IELTS Vocabulary Flash Card dari Magoosh di Play Store atau App Store.
4. Tuntaskan belajar dan latihan dari poin 1, 2, dan 3. Ingat, belajar itu harus efektif (tujuan tercapai) dan kalo bisa juga efisien (tidak boros waktu). Jika memungkinkan, belajarlah dengan dengan gaya belajar teman-teman***
catatan:
*kalo ga punya uang beli bukunya, silahkan pinjam ke perpustakaan atau ke temen yang punya. kalo ga ada yang punya... ya tau lah ya harus ngapain hehe
**download seluruh buku gratis dari Magoosh TOEFL iBT di sini dan untuk IELTS di sini.
***dari berbagai survey, ada yang cara belajar listening mendengarkan Ted X di youtube, ada yang nonton series ga pake subtitle, dll. Pada bagian speaking pun ada yang latihan dengan main Dota2 pake microphone.

7. PENILAIAN RUTIN

Jangan lupa untuk terus menilai dan mencatat progress belajar dengan hanya melakukan simulasi pada bagian tertentu (reading, listening, speaking, atau writing) yang teman-teman pilih. Dengan melakukan pencatatan dan penilaian rutin, teman-teman jadi tau progress perkembangan belajarnya. Ketika salah sekalipun, teman-teman bisa buka buku dari ETS atau British Council dan nyari tau bagian yang diujikan apa sih yang masih salah terus, apakah bagian yang menguji kemampuan skimming, apa bagian kemampuan menyimpulkan, dan lain hal.

Sekali lagi saya sangat rekomendasikan teman-teman membuat plan belajar mengacu pada Magoosh. Pada plan belajar tersebut sudah tertera kapan teman-teman harus melakukan penilaian rutin.

8. SIMULASI AKHIR

Ketika berbagai bagian yang rendah sudah sesuai dengan target, maka silahkan lakukan simulasi tes akhir sebelum tes. Jika dari hasil beberapa kali tes sudah memiliki tren nilai yang sama dengan target score (ingat target score kalau bisa 15 poin lebih tinggi dari persyaratan untuk TOEFL iBT atau 1 poin lebih tinggi untuk IELTS) maka teman-teman sudah bisa mulai mempertimbangkan untuk mendaftarkan diri untuk EPT nya.

Jika belum, maka teman-teman harus belajar dan latihan kembali.

9. DAFTAR TES


Perlu jadi catatan juga, sebelum memasukan kode institusi saat mendaftar EPT, pastikan teman-teman sudah punya akun terlebih dahulu di portal institusi yang teman-teman tuju.
contoh institution code (kode institusi/universitas yang dituju) dan dept. code (bagian institusi yang dituju seperti bagian admission dll)

Sebagai contoh, teman-teman ingin mendaftar di MIT dan butuh mengirimkan bukti EPT ke mereka. Maka pertama, teman-teman harus membuat id di portal admission MIT, isi data diri. Kemudian catat kode pengiriman score EPT institusi tersebut.  Setelah itu silahkan buka artikel bagian #1 untuk website mendaftar berbagai EPT. Jangan lupa masukin kode institusi tujuan teman-teman untuk manfaatkan slot pengiriman score gratis (TOEFL iBT 4 slot, IELTS 5 slot) pada saat pendaftaran.

Jangan sampai salah ya, nanti score nya tidak terkirim :)

PELAKSANAAN TES

Pada dasarnya, salah satu tantangan dari EPT adalah bagaimana memastikan performa kita saat tes mencapai 100%. Dengan memastikan bahwa performa kita 100%, maka seluruh kemampuan dan kompetensi berbahasa inggris dapat di demonstrasikan dengan baik. Meskipun demikian, faktanya, banyak faktor lainnya yang dapat berakibat turunnya performa kita saat tes (bisa turun ke perkiraan 70-80% saja).

Berikut beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam persiapan menjelang tes:

1. SURVEY LOKASI TES

Ketika mendekati waktu tes, silahkan survey lokasi tes, pahami moda transportasi yang terbaik serta waktu perkiraan macetnya. Saya sangat rekomendasikan untuk teman-teman di Jakarta untuk menginap dekat lokasi tes (hotel, motel, kos teman, etc) sehingga tidak perlu deg-deg an pada saat hari H dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Kemudian pastikan gedungnya yang mana, jika memungkinkan ruangannya juga. Setelah itu pahami lokasi-lokasi dan hal yang penting seperti tanyakan ke CS apa yang perlu di bawa saat tes, lokasi toilet, lokasi registrasi, dll.

2. BARANG YANG PERLU DIBAWA SAAT TES

Tiap tes memiliki list rekomendasi barang-barang apa saja yang perlu di bawa di free material. Biasanya yang perlu dibawa adalah hal umum dan dasar seperti KTP (passport, atau silahkan cek pada peraturan masing-masing tes) dan minum (sebagian tempat tes bahkan telah menyediakan air minum juga). Alat-alat tulis tidak dimasukkan ke list tersebut karena biasanya sudah disediakan oleh tempat tes. Meskipun demikian, pastikan kembali apa-apa saja yang harus dibawa di website mereka.

3. HARI PELAKSANAAN

Congratz, this is your big day. 

Pertama, jangan lupa tuntaskan rutinitas di pagi hari, jangan sampai mengganggu saat tes nanti. Karena jika ke toilet saat tes berlangsung maka waktunya akan tetap berjalan which is merugikan. 

Kedua, datang lebih awal, sekitar 15-20 menit lebih awal sudah di lokasi. Kosongkan pikiran lain, this day is only about EPT. Tenangkan dirimu saat menjelang pelaksanaan tes. Tutup matamu, tarik nafas dalam-dalam buang secara perlahan. Dalam keadaan mata tertutup, bayangkan saat tes kelak dan bagaimana saat tes kamu mampu, sukses dan sangat lancar dalam melaksanakan tes (self-hypnosis at its best). Jika sudah menjelang masuk ruangan, buka matamu. Ingat, jangan pernah meragukan diri sendiri. Go on, break a leg!

Ingat, tidak perlu khawatir dan gugup karena justru kedua hal itu lah yang akan membuat performa kita menurun saat tes :)

Ketiga, jika memungkinkan, jangan minum terlalu banyak. Kemudian makan permen mint atau coklat. Berbagai riset membuktikan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri yang akan berakhir pada peningkatan performa kita saat tes.

PASCA TES

Setelah perjalanan panjang teman-teman, maka berakhir sudah perjuangan yang berat. Sekarang tiba pada fase deg-deg an dan khawatir. Ingat, Insyaa Allah hasilnya akan sesuai dengan kemampuan teman-teman pada saat tes. Jangan lupa berdoa untuk diberikan hasil yang terbaik.

Setelah itu catat baik-baik tanggal pengumumannya beserta perkiraan score sampai pada institusi tujuan. Terkait waktu pengumuman, umumnya tidak akan delay dari perkiraan tersebut. Jika terjadi delay pun, delaynya delay karena perbedaan zona waktu (1 hari jika telah mempertimbangkan perbedaan waktu). Kalo pun delay yang beneran delay, biasanya pada rentang 1-2 hari saja. Kalo pengalaman TOEFL iBT, ETS akan email ketika score sudah bisa diakses di portal mereka.

Terkait pengiriman score, setelah score diumumkan, silahkan pantau portal pendaftaran pada institusi yang teman-teman tuju. Lihat apakah berkas teman-teman sudah masuk apa belum. Jika sudah 1 minggu setelah pengumuman belum masuk ke institusi tersebut, maka coba email ETS/British Council untuk memastikan proses pengirimannya. Sejauh ini saya belum pernah menemukan kasus test taker di mana score nya tidak sampai pada institusi yang dituju dalam waktu 1-2 minggu. Yang ada adalah kasus test taker yang salah memasukan kode institusi dan department code sehingga tentu score nya tidak sampai.


PENUTUP

Yang perlu menjadi catatan adalah terkadang kita terlalu sibuk mencari tau apa tips trik toefl atau ielts dibandingkan belajar dan latihannya.

The truth is, tips dan triknya adalah belajar, latihan dan doa yang banyak. Jika pun harus mencari informasi dari berbagai macam orang, maka tugas kita bukanlah untuk meniru cara belajar mereka. Tugas kita adalah mengadaptasi berbagai cara belajar yang sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan kita.

Selesai sudah artikel bagian 4 ini. Seperti yang telah saya sampaikan artikel bagian 4 ini lebih cenderung berisikan opini (kecuali ibt vs ielts) dibandingkan faktanya. Teman-teman tentu bisa saja memiliki pendapat yang berbeda terkait langkah-langkah persiapan belajar. 

Silahkan berkomentar di artikel ini dan sampaikan pandangan teman-teman, syukur-syukur teman-teman di luar sana yang masih bingung mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi. Kemudian jika sekiranya ada yang salah atau kurang tepat, mohon langsung chat atau komentar di artikel ini ya. Kalau bisa di chat, biar langsung diubah.

Artikel ini adalah artikel terakhir untuk #English Proficiency Test.
Kedepannya hanya akan ada artikel yang menceritakan perjalanan persiapan saya dalam mengambil TOEFL iBT di Hijrah #5 bagian 3/4.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

PEMBUKA

Kategori English Proficiency Test merupakan sebuah seri untuk mengenal, memahami, memilih, dan mencapai nilai yang ditargetkan pada blog ini. Perlu dipahami, saya sangat-sangat merekomendasikan untuk membaca Kategori English Proficiency Test berurutan (part 1, part 2, part 3, dan part 4). Dengan demikian teman-teman dapat memahami seutuhnya.

Sebelumnya telah dibuat artikel dengan judul 'Getting to know with TOEFL iBT and IELTS Academic Test #2'. Pada bagian #2, kita telah mengenal format TOEFL iBT dan IELTS Academic Test lebih dekat. Nah teruntuk yang belum baca bagian #2 nya, silahkan dibaca dulu ya sebelum baca lebih lanjut.

Setelah bagian #2 selesai, maka sekarang akan masuk ke bagian #3. Pada bagian ini, kita akan memahami apa-apa saja yang menjadi pertimbangan untuk memilih Internationally Recognized English Test sebagai persyaratan melanjutkan studi. Berbeda dengan bagian #1 dan bagian #2 (yang merupakan fakta, merujuk ke website masing-masing), bagian #3 ini merupakan artikel yang dibuat berdasarkan pendapat penulis (kecuali bagian toefl ibt vs ielts). Jadi wajar jika sekiranya terdapat perbedaan pendapat dengan teman-teman :)

Berikut adalah beberapa parameter yang dijadikan acuan berdasarkan skala prioritasnya:

PARAMETER 1: TUJUAN INSTITUSI

Nah, dari berbagai macam pertimbangan untuk menentukan tes yang diambil, yang paling penting adalah TUJUAN INSTITUSINYA. Alasannya sederhana, untuk apa kita mengambil tes yang tidak diterima oleh institusi tujuan kita?

Sebagai ilustrasi, teman-teman ketika di akhir masa studi (bisa saja SMA untuk lanjut S1, atau S1 untuk lanjut S2), maka teman-teman tentu sudah memiliki list berbagai universitas, institut, dan berbagai lembaga pemberi beasiswa. Dari berbagai tujuan tersebut, teman-teman harus pake banget, melihat persyaratan masing-masing universitas (ingat, ada yang namanya syarat universitas dan terkadang juga ada syarat program studi) dan masing-masing lembaga pemberi beasiswa.

Setelah merangkum seluruh skenario (plan A, plan B, ..., plan Z) dari rencana studi teman-teman dan merangkum persyaratan masing-masing lembaga, maka kita dapat melihat perpotongan dari persyaratan IRET nya. Dengan telah mengetahui apa-apa saja IRET yang diterima oleh tiap lembaga beserta nilainya, maka kita dapat memilih lebih baik tanpa mengorbankan salah satu institusi tujuan kita.

UMUMNYA, TOEFL PBT (inget ya, yg revised-version. inget, toefl pbt ga ada di Indonesia. cek lagi artikel bagian 1 kalo masih bingung), TOEFL iBT, dan IELTS Academic Test diterima sebagai persyaratan. Meskipun demikian, masih ada beberapa institusi yang justru belum menerima salah satunya. Bisa jadi ada institusi yang hanya menerima TOEFL iBT, bisa jadi ada yang hanya menerima IELTS Academic Test, bisa jadi ada institusi yang menerima TOEIC atau TOEFL ITP saja, ada juga lembaga lembaga yang menerima seluruh IRET.

Perlu diingat juga, meski institusi menerima seluruh atau berbagai IRET, terkadang ada beberapa institusi yang memiliki preferensi terhadap salah satunya. Jadi bahasanya di websitenya sih '... xxx (nama IRET) is preferred'. Meski ada preferensi, sekali lagi bukan berarti IRET lainnya yang ada di page mereka ditolak ya. Kembali ke tadi, hanya preferensi ^^

Berikut saya berikan ilustrasi:


Dari contoh di atas, jika seandainya teman-teman memiliki rencana untuk mengambil Universitas A hingga D dan Beasiswa X dan Y, maka TOEFL iBT dan IELTS Academic Test dapat menjadi solusinya. Khusus untuk Beasiswa Z, tertera pada persyaratannya hanya menerima TOEFL ITP dan TOEFL-Like. Nah pada kasus ini, coba hubungi Admission Office Beasiswa Z, apakah memungkinkan untuk tetap mendaftar menggunakan TOEFL iBT atau IELTS Academic Test. Sepengalaman saya, hal ini sangat-sangat-sangat memungkinkan :)

PARAMETER 2: WAKTU dan UANG

Nah hal terpenting selanjutnya adalah waktu dan uang.

Waktu ini didefinisikan sebagai waktu persiapan tes, waktu pelaksanaan tes, waktu pengumuman nilai tes, waktu pengiriman bukti nilai ke institusi yang dituju. Semuanya harus banget-banget dipertimbangkan.

Pertama terkait waktu persiapan tes. Umumnya ini yang menjadikan constraint utama dari test taker. Tiap orang memiliki takarannya masing-masing mengenai seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk belajar. Ada yang cuma belajar seminggu IELTS nya dapet 8, itu ada. Ada juga yang cuma belajar 1 minggu TOEFL iBT nya 100. Ada yang perlu belajar 1-3 bulanan untuk setara mendapatkan IELTS 7 atau TOEFL iBT 95.

Tiap orang-orang punya kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Waktu persiapan dapat diperkirakan dari pre-test terhadap tes IRET yang teman-teman pilih. Dari hasil pre-test tersebut teman-teman akan mendapatkan gambaran berapa nilai yang masih kurang, bagian mana yang masih kurang, dan butuh waktu berapa lama untuk mempersiapkannya. Jadi tak perlu khawatir dan iri terhadap rekan-rekan yang dapat meraih score tinggi dengan waktu persiapan yang singkat ya ^^

Kedua terkait waktu pelaksanaan tes, tes yang paling umum digunakan adalah TOEFL iBT dan IELTS Academic Test yang memiliki lama tes yang berbeda-beda. Umumnya waktu pelaksanaan tes bukanlah constraint utama karena hanya berorde jam (bukan hari), namun tetap menjadi hal yang patut dipertimbangkan ketika memilih salah satu tesnya. Hal ini akan dibahas di bagian akhir artikel mengenai TOEFL iBT vs IELTS Academic Test.

Selanjutnya adalah waktu pengumuman nilainya. Tiap IRET membutuhkan waktu yang berbeda untuk menilai dan mengumumkan nilai teman-teman. Teruntuk TOEFL ITP umumnya sekitar 1 minggu, terkadang mencapai 2 minggu. Pada TOEIC, TOEFL iBT dan IELTS umumnya 2 minggu. Kelebihan ketiga jenis tes ini, ETS dan British Council udah mengeluarkan timeline perkiraan tanggal pengumuman nilainya. Biasanya hampir ga pernah melenceng. Jadi ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Terakhir terkait waktu adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan nilai ke institusi tersebut. Beberapa jenis tes IRET seperti TOEFL iBT dan IELTS akan diverifikasi nilainya oleh institusi tersebut. Untuk IELTS, ada 2 cara untuk memverifikasi nilainya yakni melalui cara online dan melalui cara pengiriman. Silahkan hubungi institusi yang teman-teman tuju untuk melihat petunjuk verifikasi nilainya. Teruntuk TOEFL iBT, cara verifikasinya hanya bisa melalui cara pengiriman. Nilai TOEFL iBT akan dikirim langsung oleh ETS ke alamat institusi, dan ini membutuhkan waktu tergantung dari lokasi institusi tersebut. Perkiraan waktu pengiriman biasanya sekitar 1-2 minggu untuk di luar USA. Ketidakpastian kapan sampainya ke institusi lah (bisa jadi lebih cepat, bisa jadi delay) yang mengakibatkan waktu pengiriman menjadi constraint utama yang kedua setelah waktu persiapan.

Selanjutnya adalah terkait uang. Nah ini juga menjadi hal yang sangat-sangat penting untuk diperhatikan. Tak dapat dipungkiri IRET tergolong mahal banget (setidaknya buat saya). Kita harus cerdik mengakali berbagai cara sehingga biaya pendaftarannya jadi lebih murah. Untuk TOEFL ITP biayanya sekitar 300-500k, TOEFL iBT dan IELTS sekitar 2.7-2.9 juta. Untuk 'mengakali' agar lebih murah saya sudah sampaikan pada artikel bagian #1, yakni dengan cara mendaftar langsung online tanpa via prantara. Hal ini bisa menghemat 100-200 ribu rupiah. Kemudian terkait uang, kita juga harus bijak memilih tes yang akan diambil sesuai keadaan.

ILUSTRASI PARAMETER 1 dan 2

Untuk mempermudah memahami pentingnya poin terkait parameter 1 dan parameter 2 ilustrasinya:

SKENARIO 1

Pada skenario 1, seluruh deadline pendaftaran diasumsikan jatuh pada tanggal dan bulan yang sama yakni bulan Desember dan teman-teman lulus pada periode Februari.

Rencana tujuan universitas dan pemberi beasiswa:


Jika melihat dari contoh tujuan universitas dan lembaga pemberi beasiswa, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa TOEIC, TOEFL ITP, dan TOEFL-Like bukanlah pilihan yang bijak bagi teman-teman. Hal ini karena ketiga tes tersebut tidak diterima pada salah satu universitas dan lembaga pemberi beasiswa yang dituju. Tentu akan sangat boros uang jika mengambil TOEIC, TOEFL ITP, atau TOEFL-Like untuk kemudian mengambil TOEFL iBT atau IELTS. Jadi kaya bayar dua kali.

Jika dilihat dari waktu wisuda ke waktu penutupan pendaftaran, waktunya harusnya cukup untuk persiapan, pelaksanaan tes, pengumuman tes, hingga waktu pengiriman nilai ke institusi. Dari skenario 1 maka dapat disimpulkan bahwa IRET yang cocok adalah TOEFL iBT atau IELTS Academic Test.

SKENARIO 2

Pada skenario 2, terdapat perbedaan deadline pendaftaran pada berbagai lembaga yang dituju. Asumsi teman-teman lulus pada periode bulan November.
Rencana tujuan universitas dan pemberi beasiswa:

catatan:
Rencana D: Universitas D + Beasiswa D dengan deadline 10 Januari
Rencana E: Universitas E + Beasiswa E dengan deadline 10 Mei

Dari rencana yang teman-teman miliki, terlihat perbedaan deadline pemberi beasiswa antara rencana D dan rencana E. Pada rencana D, tertera deadline nya adalah 10 Januari sedangkan rencana E pada 10 Mei. Dapat dilihat, solusinya masih sama yakni TOEFL iBT atau IELTS Academic Test, namun pada skenario ini terdapat kemudahan dalam memilih. Beberapa solusi pilihan sebagai berikut:

SOLUSI 1: Kejar yang paling deket dulu timeline nya
Karena teman-teman diasumsikan lulus November, maka teman-teman jika merasa tidak siap untuk ambil TOEFL iBT atau IELTS Academic Test dengan rentang waktu belajar hanya sekitar 2-3 minggu, maka untuk mengejar pendaftaran rencana D, teman-teman dapat mengambil tes yang cenderung lebih mudah yakni TOEIC dan waktu persiapan dll nya lebih cepat. TOEIC dapat menjadi pilihan karena dapat digunakan pada rencana D meski tidak dapat digunakan pada rencana E. Jika mengambil solusi 1, maka teman-teman akan mengeluarkan uang untuk tes 2x, yakni untuk rencana D dan beberapa waktu kemudian pada rencana E (karena pada rencana E, TOEIC tidak diterima sehingga teman-teman harus mengambil tes TOEFL iBT atau IELTS)

SOLUSI 2: Mengambil perpotongan dari seluruh rencana
Dapat dilihat sebenarnya TOEFL iBT dan IELTS dapat menjadi pilihan yang bijak. Meskipun waktu belajar hanya sekitar 2-3 minggu, jika teman-teman ingin menghemat uang dan merasa mampu mengejar nilai prasyarat pada rencana D dan E, maka teman-teman bisa langsung mengambil TOEFL iBT atau IELTS. Jika berhasil, maka teman-teman bisa menghemat pengeluaran yang sangat signifikan.

SKENARIO 3

Pada skenario 3, asumsi teman-teman lulus pada bulan November

catatan:
Rencana F: Universitas F + Beasiswa F, deadline Mei
Rencana G: Universitas G + Beasiswa G, deadline Mei

Dapat dilihat terdapat 3 solusi yakni TOEIC, TOEFL iBT, dan IELTS. Beberapa solusi pilihan sebagai berikut:

SOLUSI 1: Mengambil tes yang tergolong lebih mudah
Dari ketiga opsi, dapat dikatakan TOEFL ITP cenderung lebih mudah dari TOEFL iBT dan IELTS. TOEFL ITP juga merupakan solusi yang tergolong hemat kantong karena biaya pendaftarannya tidak semahal TOEFL iBT dan IELTS meski tetap lumayan. Jadi, jika memang teman-teman tidak punya rencana lain selain rencana F dan G, dan merasa yakin akan diterima di rencana F atau G, maka TOEIC dapat menjadi solusi yang tepat.

SOLUSI 2: Prepare for the worst
Meski TOEFL ITP dapat menjadi solusi dari rencana F dan G, kita tidak dapat menjamin apakah kita akan berhasil (diterima) di rencana F dan G. Bisa jadi meski nilai TOEIC kita memenuhi persyaratan F dan G, ternyata kita tetap ditolak oleh institusi tersebut. Pada kondisi ini maka kita harus mempersiapkan rencana lainnya (yang di mana mungkin saja TOEIC tidak diterima). Pada solusi 2, jika tertarik, maka kita dituntut untuk mengambil IRET yang secara umum diterima yakni TOEFL iBT atau IELTS Academic Test. Hal ini dapat menghemat uang yang cukup signifikan ketika ternyata rencana F dan G gagal.

Dari 3 skenario di atas harapannya teman-teman jadi memahami mengapa Institusi Tujuan, Waktu, dan Uang menjadi parameter yang penting dalam memilih IRET yang diambil.

BAGIAN 3: KECENDERUNGAN TERHADAP  SALAH SATU TES

Setelah melalui bagian 1 dan 2, maka tentu akan hadir beberapa opsi tes. Umumnya opsi yang tersisa setelah melalui bagian 1 dan 2 adalah TOEFL iBT dan IELTS Academic Test. Menurut saya, sisanya adalah bagaimana kita memilih tes yang sekiranya kita mampu menghasilkan nilai yang objektif dan lebih tinggi BUKAN apa yang dirasa lebih cocok.

Akan sangat beruntung jika ternyata apa yang dirasa cocok ternyata menghasilkan nilai yang tinggi diakhirnya. Karena percuma jika teman-teman cocok terhadap salah satu IRET tapi setelah belajar cape-cape skornya masih rendah. Menurut saya pribadi, lebih baik belajar tes lainnya yang meski ga cocok tapi skor akhirnya bisa lebih tinggi daripada memaksakan pakai tes yang dirasa nyaman tapi skornya cenderung lebih rendah.

Karena, bisa jadi, teman-teman lebih nyaman IELTS tapi ternyata beberapa kali latihan dan simulasi masih mentok di score 5, dan ternyata ketika coba TOEFL iBT score nya nyampe 100. Bisa jadi juga ketika pilih TOEFL iBT score nya cuma 60 dan ternyata setelah coba IELTS bisa sampe 8.

Ada opsi lainnya ketika tetap kekeuh ngambil tes A meski nilainya tidak sebesar pada saat ia ambil tes B. Solusinya menggeser rencananya jika ternyata nilai pada tes A, tes yang ia merasa cocok, ternyata tidak memenuhi atau pas-pasan pada universitas dan lembaga beasiswa yang dia tuju.

Karenanya, preferensi test taker terhadap IRET saya letakan di akhir. Menurut saya pribadi, tujuan universitas tak bisa digeser hanya karena sebatas lebih nyaman dengan tes satunya.
Teman-teman berbeda pendapat? That's okay ^^

So, which test you would take? IELTS? TOEFL iBT? ^^

Jika setelah melalui Parameter 1 dan 2 dihasilkan 2 opsi yakni iBT dan IELTS, maka teruntuk teman-teman yang masih bingung memilih TOEFL iBT atau IELTS, berikut ada tambahan pembahasan sedikit~

TOEFL iBT atau IELTS: PILIH YANG MANA?

Teruntuk yang masih bingung memilih yang mana, hal paling pertama yang perlu diperhatikan adalah background kemampuan Inggris dari test taker. Saya sangat sarankan pahami terlebih dahulu format masing-masing tes sebelum membaca lebih lanjut. Untuk format TOEFL iBT dan IELTS Academic Test sudah pernah dibahas di artikel bagian #2 dan bisa diakses di sini.

Jika ditanyakan kekurangan masing-masing tes saya menolak menyatakan adanya kekurangan pada kedua tes, saya lebih cenderung menggunakan kata 'keunikan' atau 'konsekuensi' dari jenis tesnya.

KONSEP PAPER BASED VS INTERNET BASED

Teruntuk TOEFL iBT, dengan mengusung tema Internet-based Test maka tentu proses persebaran Authorized Testing Center nya cenderung lebih cepat dibandingkan IELTS. Hal ini karena modal yang dibutuhkan TOEFL iBT cenderung lebih mudah (hanya membutuhkan komputer/laptop, internet, dan perizinan dari ETS). Berbeda dengan IELTS yang mengharuskan datangnya secara langsung certified examiner untuk sesi speakingnya. Dengan demikian, ATC nya iBT cenderung lebih banyak dan lebih luas dibandingkan IELTS TAPI bukan berarti ATC nya IELTS sedikit loh ^^

Konsep pbt vs ibt ini akan semakin terasa pada bagian Writing. Untuk iBT diketik sedangkan IELTS ditulis. Kalo tulisan salah maka dihapus menggunakan backspace pada iBT, kalo di IELTS menggunakan penghapus. Perlu menjadi catatan, kedua test sama sama menyediakan scratch paper TAPI tidak menyediakan waktu pemindahan jawaban dari scratch paper ke komputer (buat ibt) atau ke kertas jawaban (untuk ielts).

Perlu diingat juga, durasi tes iBT maksimal 4 jam dan IELTS berlangsung selama 2 jam 30 menit.
Untuk iBT, perlu menjadi catatan bisa saja teman-teman selesai dengan waktu sekitar 3 jam 20 menit an (liat artikel bagian #2) jika dapet jumlah soal yang sedikit dan mengambil break yang singkat.
Untuk IELTS, perlu menjadi catatan meski waktu totalnya adalah 2 jam 45 menit, seringnya, bagian speaking harinya dipisah. Sehingga jika tes Listening/Reading/Writing pada hari senin, maka bisa jadi speaking nya di hari selasanya.

KECENDERUNGAN INSTITUSINYA

Berdasarkan sejarahnya (baca artikel bagian #2), TOEFL iBT cenderung lebih dipilih di daerah USA sedangkan IELTS cenderung lebih dipilih di daerah Inggris, Australia, dan negara persemakmuran Inggris lainnya. Hal ini terus berlangsung hingga kini MESKI (ini harus banget diperhatikan), sekarang hampir sebagian besar berbagai institusi telah menerima iBT dan IELTS sebagai persyaratan IRET mereka. 

Sebagian institusi di USA masih mencantumkan '... TOEFL iBT is preferred' begitu juga dengan sebagian institusi di Inggris yang masih mencantumkan '... IELTS is preferred'. Catatan yang paling penting adalah meski institusi memiliki kecenderungan terhadap salah satu tes, selama mereka mencantumkan tes IRET lainnya, maka tidak apa apa untuk mengambil tes IRET lainnya selama menghasilkan skor yang tak hanya melebihi persyaratan tapi cukup tinggi.

BIAYA YANG DIKELUARKAN

Umumnya harga tes iBT dan IELTS memiliki harga yang tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah biaya cara verifikasi nilai. Seperti yang telah saya sampaikan, TOEFL iBT hanya bisa diverifikasi dengan mengirimkan nilai dari ETS ke institusi yang bersangkutan. Di lain sisi, IELTS nilainya bisa diverifikasi via mengirimkan nilai dan juga via online (tergantung institusi tersebut apakah sudah bekerja sama dengan British Council apa tidak).

Pada iBT, saat melakukan pendaftaran kita akan diberikan 4 slot pengiriman nilai ke institusi secara gratis. Hal ini harus banget dimanfaatkan karena kalo ngirim di luar 4 slot itu akan dikenakan biaya tambahan yang lumayan (sekitar 200 ribu per slot apa ya, saya lupa). Pada IELTS akan disediakan 5 slot, dan jika ingin menambah, dan kebetulan institusi yang bersangkutan bisa verifikasi via online, maka teman-teman tidak akan mengeluarkan biaya tambahan. TAPI jika ternyata institusi yang teman-teman tuju masih belum bisa verifikasi nilai IELTS secara online, maka teman-teman harus tetap mengeluarkan biaya tambahan untuk mengirim nilai ke institusi tujuan.

AKSEN YANG DIGUNAKAN

TOEFL iBT cenderung menggunakan standard american accent sedangkan IELTS bisa menggunakan american accent, ireland, british, australian, etc di soalnya. Dapat dikatakan terkait aksen, teman-teman yang sudah terbiasa dengan TOEFL ITP dan Like akan menemukan iBT bagian listening lebih mudah dipahami dibandingkan berbagai aksen yang mungkin digunakan pada IELTS. TAPI, sekali lagi, masih ada sebagian orang yang sudah terbiasa berada pada lingkungan dengan berbagai aksen sehingga tidak menjadi masalah.

Perlu menjadi catatan penting lagi, bahwa meski IELTS menggunakan berbagai aksen pada soalnya (begitu juga iBT yang hanya menggunakan aksen amerika), teman-teman tidak akan dipinalti (dikurangi nilainya) jika menggunakan aksen tertentu karena yang dinilai adalah isinya. Bukan aksennya. Jadi kalo mau paka aksen logat daerah tapi isinya benar dan baik, maka akan tetap mendapat nilai yang bagus.

FORMAT SOAL: MULTIPLE CHOICE VS SHORT ANSWER

Ini adalah constraint utama dan wajib menjadi pertimbangan utama setelah berbagai aspek di atas, yakni terkait format soal.

Jenis soal pada TOEFL iBT cenderung lebih familiar jika dibandingkan dengan IELTS (yang memiliki short answer, sentence completion, dll). Teruntuk teman-teman yang sering atau pernah mengambil TOEFL Like, maka sebenarnya sesi Reading dan Listening tidak jauh berbeda dengan itu. Tapi perlu diingat, kita dapat mengatakan format TOEFL iBT lebih familiar karena di Indonesia TOEFL Like dan TOEFL ITP sudah sangat banyak dan umum diambil. Dengan demikian kita lebih terbiasa mengerjakan soal dengan format multiple choice dibandingkan dengan short answer.

Perlu diingat juga, dikarenakan di IELTS ada bagian short answer (ilustrasi cek artikel bagian #2), maka kita dituntut untuk menuliskan bahasa inggris yang benar secara spellingnya. Kalau salah tentu ada pemotongan nilai, berbeda dengan iBT yang tidak punya short answer di bagian listening dan readingnya.

Overall, kembali ke poin awal, TOEFL iBT memiliki keunikan yakni formatnya mirip dengan TOEFL Like dan TOEFL ITP pada bagian Listening, Reading, dan Writing (meski bagian writing miripnya dikit). Hal ini sangat membantu teman-teman yang memiliki waktu persiapan sedikit karena tidak perlu belajar format soal baru.

Perlu diingat juga, sebagian ada yang cenderung untuk mengerjakan soal yang utuh multiple choice dan ada sebagian lainnya yang mampu dan nyaman mengerjakan soal short answer.  Akan sangat tidak adil jika sekiranya kita menilai TOEFL iBT pasti lebih cocok bagi test taker dari Indonesia dibandingkan IELTS (liat sejarah perkembangan IELTS). Karenanya kembali ke tadi, tiap orang punya kecenderungannya masing-masing terkait format test nya.

FORMAT SPEAKING: MICROPHONE VS FACE-TO-FACE

Perlu menjadi catatan juga, sebagai konsekuensi penggunaan format iBT, maka teman-teman akan ditempatkan di satu ruangan bersama test taker lainnya, biasanya sekitar 10-15 orang (berdasarkan pengalaman saya).

Sedangkan pada IELTS, bagian speaking bisa saja terpisah dari hari tes utama (bisa saja esok harinya). Dan jadwal tersebut telah ditentukan oleh British Council, kita hanya mengikuti jadwal yang telah diberikan. Sebagian ada yang merasa hal ini sangat menguntungkan karena bisa menenangkan hati dan bisa lebih mempersiapkan diri, sebagian ada yang merasa hal ini merugikan karena setelah terbiasa menggunakan bahasa inggris pada hari itu (alias pemanasan di 3 bagian sebelumnya) harus berhenti dan melanjutkan diesok harinya (yang di mana bagi ia harus melakukan pemanasan ulang).

Secara format juga iBT berbeda dengan IELTS. Di IELTS format speakingnya langsung face to face dengan examiner sedangkan iBT melalui microphone untuk merespons instruksi. Sebagian orang mengeluhkan iBT karena terdistraksi dengan test taker lain ditambah tidak nyaman berbicara ke microphone, sebagian orang mengeluhkan IELTS karena gerogi bukan main dan terkadang bahasan topik diskusinya terlalu melebar dan dinamis. Hal ini berbeda dengan iBT yang speakingnya cenderung 1 arah dan tidak ada diskusi. Format speaking dan konsekuensinya sangat-sangat penting untuk dipertimbangkan.

Oh ya, karena saya iBT test taker, jadi sekedar sharing aja teruntuk yang mengeluhkan terganggu pada saat sesi speaking.
Perlu diingat, di sana teman-teman memulai tes bersamaan, jika sudah selesai bagian reading, maka teman teman bisa melanjutkan ke sesi listening dan seterusnya. Jadi bisa saja test taker sudah mencapai bagian yang lain sedangkan kita masih di bagian paling awal. Sebelum sesi speaking, terdapat mandatory break, satu tips bagi saya, untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan mengambil mandatory break sesingkat mungkin untuk masuk ruangan dan memulai sesi speaking lebih awal. Dengan demikian teman-teman tidak akan terdistraksi oleh orang lain.

MENGENAI SOAL-SOAL YANG DIGUNAKAN

Pada TOEFL iBT juga, setting yang dibawa adalah cenderung lebih akademik dibandingkan dengan IELTS. Teman-teman yang sudah biasa mendengarkan lecture, TED X, dan berbagai macam conference berbahasa inggris umumnya akan lebih menemukan TOEFL iBT khususnya Listening dan Readingnya dapat memahami lebih baik. Berbeda untuk IELTS, berbagai naskahnya bisa saja didapatkan dari majalah atau koran sehingga real life experience nya tetap terasa, jadi penggunaan inggris meski di setting akademik, lebih terasa hidup.


At the end, here we are, discussing which test is better. Is it TOEFL iBT? or is it IELTS?
My answer is NONE OF THEM IS BETTER!
Karena test terbaik adalah test yang mampu menggambarkan kemampuan kita secara objektif, mampu meraih nilai tertinggi, bukan hanya sekedar merasa nyaman terhadap jenis tesnya.

Sebagai penutup bagian tambahan ini, berikut saya kutip sebuah pertanyaan singkat dari Magoosh untuk mempermudah pemilihan IRET:

  • I am comfortable with computers. YES/NO
  • I am comfortable speaking extemporaneously into a microphone. YES/NO
  • I can type quickly.* YES/NO
  • I prefer standard American English. YES/NO
  • I am good at answering multiple-choice questions. YES/NO
  • It is easy for me to take notes from a recording. YES/NO
  • The authentic English sources I read/listen to/watch are usually intended to inform rather than entertain. YES/NO
*catatan: definisi mengetik cepat bukan berarti mengetik 1 halaman A4 dalam waktu 1 menit. definisi mengetik cepat adalah mengetik sekitar 150-200 kata dalam waktu sekitar 4-6 menit atau 300-400 kata untuk sekitar 5-8 menit.

Jika pada soal di atas kita menjawab lebih banyak Yes dibandingkan No, maka seharusnya kita lebih cocok dan mampu meraih score lebih tinggi dengan TOEFL iBT.

Kemudian pertanyaan selanjutnya:

  • I am comfortable having a detailed interview in-person. YES/NO
  • I have legible English handwriting. YES/NO
  • I can understand a variety of dialects of English. YES/NO
  • I prefer tests with many question types, including multiple choice, fill-in-the-blank, matching, true/false, and flowcharts. YES/NO
  • I feel most comfortable discussing non-academic topics in English. YES/NO
  • The authentic English sources that I read/listen to/watch are usually made to entertain. YES/NO
Jika pada bagian di atas kita lebih banyak menjawab Yes dibandingkan No, maka seharusnya kita lebih cocok dan mampu meraih score lebih tinggi dengan IELTS.


PENUTUP

Perlu menjadi catatan penting, menurut saya pribadi, faktor yang paling penting untuk menentukan tes apa yang harus diambil berdasarkan urutan prioritasnya adalah tujuan institusi, waktu dan uang, kecenderungan terhadap salah satu tes. Ingat, Tujuan, Waktu, dan Uang HADIR TERLEBIH DAHULU sebelum kecenderungan terhadap salah satu tes. Dengan mengutamakan institusi tujuan, waktu, dan uang, maka teman-teman tidak akan mengorbankan rencana studi lanjut hanya karena sekedar salah pilih tes atau kecenderungan terhadap salah satu tes IRET.

Pada bagian kecenderungan terhadap salah satu tes IRET, ingat, tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai yang objektif dan nilai yang paling tinggi, bukan karena kecenderungan terhadap salah satu tes yang diutamakan.

Ketika sudah sampai pada pilihan TOEFL iBT vs IELTS, silahkan baca kembali artikel bagian #2 dan sub artikel di atas tentang ibt vs ielts. Silahkan lakukan simulasi dari free sample nya sehingga teman-teman dapat memahami real experience dari kedua tes seperti apa. Pahami kembali, mana yang mampu memberikan nilai yang objektif dan paling tinggi di antara keduanya, pahami kembali mana yang paling cocok dengan background inggris teman-teman. Saya mengingatkan sekali lagi, parameter 1 dan 2 jauh lebih penting dibandingkan kecenderungan teman-teman terhadap salah satu tesnya.

Selesai sudah artikel bagian 3 ini. Seperti yang telah saya sampaikan artikel bagian 3 ini lebih cenderung berisikan opini (kecuali ibt vs ielts) dibandingkan faktanya. Teman-teman tentu bisa saja memiliki pendapat yang berbeda terkait parameter apa saja yang penting dalam memilih IRET. 

Silahkan berkomentar di artikel ini dan sampaikan pandangan teman-teman, syukur-syukur teman-teman di luar sana yang masih bingung mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi. Kemudian jika sekiranya ada yang salah atau kurang tepat, mohon langsung chat atau komentar di artikel ini ya. Kalau bisa di chat, biar langsung diubah.

Silahkan dinanti artikel bagian 4 tentang tips dan trik TOEFL iBT ~
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

PEMBUKA

Kategori English Proficiency Test merupakan sebuah seri untuk mengenal, memahami, memilih, dan mencapai nilai yang ditargetkan pada blog ini. Perlu dipahami, saya sangat-sangat merekomendasikan untuk membaca Kategori English Proficiency Test berurutan (part 1, part 2, part 3, dan part 4). Dengan demikian teman-teman dapat memahami seutuhnya.

Sebelumnya telah dibuat artikel dengan judul 'Introduction to Internationally Recognized English Test'. Nah teruntuk yang belum baca bagian #1 nya, saya sangat-sangat-sangat merekomendasikan baca bagian 1 dulu. Pada artikel bagian 1 tersebut terdapat pengenalan berbagai macam jenis English Proficiency Test, dari pendaftaran, contoh-contoh soal, dan rekomendasi buku bacaan untuk tiap-tiap tes.

Setelah bagian #1 selesai, maka sekarang akan masuk ke bagian #2. Pada bagian ini, kita akan mengenal lebih dekat TOEFL iBT dan IELTS Academic Test. Mengapa TOEIC, TOEFL ITP, dan IELTS General Test tidak dibahas? Cek lagi ya artikel bagian 1 ya ^^

FORMAT TOEFL iBT

Pada TOEFL iBT, tes akan dibagi menjadi 4 bagian berdasarkan urutannya pada saat pelaksanaan tes: Reading, Listening, Speaking, dan Writing dengan maksimal waktu pelaksanaan adalah 4 jam. Accent yang digunakan adalah standard american english. Dengan demikian, tidak ditemukan berbagai macam aksen seperti British, Australian, dan berbagai macam aksen lainnya. Berbeda dengan IELTS, TOEFL iBT dikerjakan melalui komputer (bisa berupa PC atau laptop, tergantung ATC nya) yang terkoneksi internet di Authorized Testing Center (ATC).


READING SECTION

Pada bagian Reading, akan terdiri atas 3-4 passages dengan 12-14 soal tiap passage. Jika teman-teman dapat 3 passages (36-42 soal) maka waktu pengerjaannya adalah 60 menit, untuk 4 passages (48-56 soal) waktu pengerjaannya adalah 80 menit. Terdapat 3 jenis pertanyaan yakni standard multiple-choice (pilihan ganda seperti biasa), multiple-choice inserting sentence into text (jadi pilihan ganda terus memilih kalimat yang ada itu cocok pada bagian mana di teks), dan merangkum naskah (teknisnya nanti di soal terdapat beberapa kalimat, terus nanti yang sesuai permintaan dimasukin ke box).

Ilustrasi tipe-tipe soal pada reading sebagai berikut:

standard multiple choice, dikutip dari free material ETS tanpa perubahan

multiple-choice inserting sentence to text, dikutip dari free material ETS tanpa perubahan

'merangkum naskah'*, dikutip dari free material ETS tanpa perubahan
*untuk bagian 'merangkum naskah' cara pengerjaannya adalah ketika misalnya teman-teman pikir yang bisa merangkum naskah itu adalah opsi 1, 5, dan 6, maka teman teman klik nomor 1, tahan, kemudian drop kan di box yang berada di atasnya. Jadi seperti click and drop sistemnya

Naskah yang digunakan adalah naskah akademik (university-level textbook). Seluruh jawaban dari pertanyaan yang ada pada bagian reading terdapat pada naskah. Dengan demikian, jangan khawatir jika dapet naskah akademik yang bukan bidang teman-teman. Naskah yang digunakan adalah naskah bagian introduction pada subject yang akan dibahas. Sekalipun digunakan beberapa istilah akademik bidang itu (ini jarang banget), maka TOEFL iBT akan memberikan semacam vocabulary notes di passage nya. 

LISTENING SECTION

Pada bagian Listening, akan terdiri dari 4-6 lectures (each about 3-5 mins long) dan 2-3 conversations (each about 3 mins long). Untuk tiap lecture akan terdiri atas 6 soal sedangkan untuk tiap conversation akan terdiri atas 5 soal. Jadi total recording-nya antara 6-9 recordings dengan rentang 34-51 soal dan waktu pengerjaan 60-90 menit. Terdapat 4 jenis soal yakni pilihan ganda dengan 1 jawaban, pilihan ganda dengan 2 jawaban benar dari 4 opsi (atau 3 jawaban benar dari 5 opsi), pertanyaan yang perlu mengurutkan suatu proses kejadian, pertanyaan yang perlu memindahkan teks atau kalimat kepada tabel. Ilustrasinya persis seperti bagian reading.

Pada bagian lecture, test taker akan dihadapkan dengan professor yang menyampaikan kuliah dengan setting berada di kelas. Ketika professor menyampaikan kuliah, terkadang terjadi penggunaan lapse (seperti: 'In short the idea of using... em... i mean the advantage of bla bla bla') juga idiom (seperti: '... its a rain check isnt it?'). Terkadang juga terjadi tanya jawab singkat antar mahasiswa dengan professor. To be noted, layaknya bagian Reading, meski merupakan kuliah, materi yang disampaikan adalah materi introduction. Jadi meski kebagian recording yang tidak sesuai dengan bidang kita, jika menyimak dengan baik maka kita dapat menjawabnya. Semua jawaban ada di recording tersebut, jadi tinggal mencatat layaknya kuliah disampaikan dengan bahasa inggris.

Pada bagian conversation, test taker akan dihadapkan dengan setting akademik. Berbagai percakapan bisa terjadi seperti saat kita kuliah aja, nanya jadwal kelas, kenapa kelas ga ada, tentang ujian susulan, tentang izin kerja praktik, belajar bareng, dan lain-lain. Pada bagian ini, biasanya terdiri atas 2 orang dan percakapannya cenderung lebih aktif (2 arah) dari pada lecture (cenderung 1 arah).

SPEAKING SECTION

Setelah bagian reading dan listening selesai, maka akan ada mandatory break. Lamanya break dapat disesuaikan dengan keinginan test taker dengan maksimal 10 menit (jadi bisa aja cuma break 1 menit terus masuk ruangan buat masuk ke bagian speaking). Pada bagian Speaking, akan terdiri dari 2 independent tasks dan 4 integrated tasks dengan total waktu pelaksanaan sekitar 20 menit. Perlu diingat jangan memulai untuk speaking ketika sebelum diinstruksikan. Karena kalo berbicara sebelum nada itu, jawaban kita yang bagian awal ga ke record.

Teruntuk independent task, yang pertama adalah terkait personal preference. Nah ini bisa beragam seperti kalo belajar suka di mana, suka pake alas kaki apa, dan berbagai macam lainnya. Independent task yang kedua adalah choice. Pada choice kita akan diberikan 2 opsi untuk kemudian memilih salah satunya dan menjelaskan alasannya. Sebagai contoh, lebih suka belajar di kampus apa di kamar, lebih suka kerja kelompok atau tugas individu, dan lain hal. Secara umum, pada independent task lebih ke arah umum bukan setting akademik. Pada bagian ini, setelah instruksi dibacakan pada tiap task, maka kita diberikan waktu 15 detik untuk menyiapkan jawaban dan 45 detik untuk menjawab tiap task.

Untuk integrated task, dibagi menjadi 2 bagian yakni Listen/Read/Speak (terdiri dari 2 task) dan Listen/Speak (terdiri dari 2 task). 

Pada bagian Listen/Read/Speak, pertama kita akan diminta untuk membaca sebuah passage (about 75-100 words long). Setelah itu kita akan diminta untuk mendengarkan conversation (about 60-80 secs). Kemudian akan diberikan instruksi, setelah itu kita memiliki waktu selama 30 detik untuk mempersiapkan jawaban dan 60 detik untuk menjawab. Topik yang akan dibahas adalah Campus situation untuk task 3 (kenaikan UKT, etc) dan Academic course untuk task 4 (ujian susulan, etc).

Pada bagian Listen/Speak, topik yang dibahas masih sama yakni Campus situation dan Academic course, yang membedakan adalah pada bagian task 5, di bagian listening, speakers akan dihadapi oleh masalah kemudian setelah itu kita memberikan solusi dan alasannya atas permasalahan yang dimiliki oleh speakers. Teruntuk task 6, akan ada semacam lecture gitu dengan jangka waktu 90-120 detik. Setelah itu kita diminta merangkum apa-apa yang telah disampaikan pada lecture tersebut.

WRITING SECTION

Pada bagian Writing, akan terdiri dari 2 tasks yakni integrated task (about 20 mins) dan independent writing (about 30 mins). Pada bagian writing, dapat dikatakan kita tidak diminta menulis sesuatu yang berbau akademik. Meskipun demikian, kita tetap diminta untuk menuliskan essay yang formal. Pada tiap bagian akan memiliki saran panjangnya essay. Tak perlu khawatir, pada kolom essay, nanti akan disediakan words counter. Jadi kita tak perlu menghitung secara manual.

Pada integrated task, sistemnya adalah Read/Listen/Write. Tipenya hampir mirip dengan bagian speaking, pada bagian ini kita akan membaca passage kira-kira 230-300 words selama 3 menit, disusul dengan listening (about 2 mins). Setelah listening, maka kita diberikan response time 20 menit. Biasanya listening itu akan memperjelas passage yang diberikan. Suggested length is about 150-225 words.

Selanjutnya adalah independent writing. Pada bagian ini kita akan dihadirkan pada suatu topik dengan 3 opsi solusi. Kita diminta untuk memilih solusi mana yang diambil dari permasalahan yang ada dan menjelaskan mengapa. Suggested length is about 300 words. Response time nya adalah 30 menit. 


FORMAT IELTS ACADEMIC TEST

Pada IELTS Academic Test, tes akan dibagi menjadi 4 bagian berdasarkan urutannya pada saat pelaksanaan tes: Listening, Reading, Writing, dan Speaking dengan maksimal waktu pelaksanaan adalah 2 jam 45 menit. Accent yang digunakan beragam dari American, British, Australian, New Zealand, dan Canadian. Berbeda dengan TOEFL IBT, IELTS merupakan paper-based test sehingga soal-soal yang diberikan akan dikerjakan pada lembar yang telah disediakan.

Dikarenakan penulis merupakan iBT test taker, maka seluruh penjelasan pada bagian IELTS Academic Test merujuk pada website IELTS (ini). Praktik di lapangan bisa berbeda bisa juga sama terutama bagian speaking. Hal ini dikarenakan topik yang dibahas pada discussion bisa saja melebar hingga dari topik awal pada long-turn.

LISTENING SECTION

Pada bagian Listening, akan terdiri dari 4 section, tiap section terdiri atas 10 soal. Listening dapat dibagi menjadi 2 bagian yakni social context (section 1 & 2) dan academic context (section 3 & 4). Jadi total recording-nya adalah 4 recordings dengan 40 soal dan waktu pengerjaan 30 menit + 10 menit transfer time (transfer time digunakan untuk memindahkan jawaban dari lembar soal ke lembar jawaban). Terdapat 5 jenis tipe soal yakni multiple choice, matching, plan/map/diagram labeling, form/note/table/flow-chart/summary completion, sentence completion. 

Ilustrasi tipe-tipe soal pada listening sebagai berikut:

multiple choice, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

short answer, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

sentence completion, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

matching, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

plan/map/diagram labeling, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

note completion, dikutip dari free material British Council tanpa perubahan

Pada bagian social context, section 1 terdapat sebuah percakapan antara 2 pembicara (terkait apapun kaya nanya kapan jalan-jalan, bukan tentang akademik). Section 2 terdapat sebuah monolog (orang ngomong sendiri) tentang fasilitas publik (umumnya).

Pada bagian academic context, section 3 berisikan tentang percakapan antara 2 pembicara dengan setting akademik (bisa lagi diskusi, ngobrol, belajar, dll). Pada section 4 berisikan lecture tentang subject mata kuliah.

Layaknya TOEFL iBT, pada IELTS listening-pun terdapat penggunaan lapse (seperti: 'In short the idea of using... em... i mean the advantage of bla bla bla') juga idiom (seperti: '... its a rain check isnt it?'). Terkadang juga terjadi tanya jawab singkat antar mahasiswa dengan professor. Pada bagian lecture-pun sama seperti TOEFL iBT yakni materi yang disampaikan adalah materi introduction. Jadi meski kebagian recording yang tidak sesuai dengan bidang kita, jika menyimak dengan baik maka kita dapat menjawabnya. Semua jawaban ada di recording tersebut, jadi tinggal mencatat layaknya kuliah disampaikan dengan bahasa inggris.

ACADEMIC READING SECTION

Pada bagian Reading, akan terdiri atas 3 passages terdiri atas 40 soal dengan waktu pengerjaannya adalah 60 menit. Terdapat berbagai jenis pertanyaan yakni multiple-choice, matching information, matching features, matching headings (headings= topik bahasan pada paragraf tersebut), table completion, dan diagram label completion. Untuk multiple choice mirip bentuknya seperti multiple choice di bagian listening, matching information, features, dan headings mirip bentuknya seperti matching di bagian listening, begitu juga table dan diagram label completion mirip dengan yang ada di bagian listening.

Passage diambil dari berbagai macam buku, jurnal, majalah hingga koran. Layaknya berbagai macam teks yang digunakan di TOEFL iBT, teks yang digunakan juga merupakan introduction into the subject. Dengan demikian, jika membaca dan memahami passage dengan baik, maka kita tetap dapat menjawab soal tersebut. 

ACADEMIC WRITING SECTION

Pada bagian Writing, akan terdiri dari 2 tasks yakni 'integrated task' (about 20 mins) dan independent writing (about 40 mins). To be noted, IELTS merupakan paper-based test. Jadi essay kita harus ditulis ke dalam kertas yang disediakan, tulisannya harus jelas dan terbaca. Jika tidak terbaca maka akan diberikan pengurangan nilai pada bagian tersebut.

Pada 'integrated task', sistemnya adalah kita diminta menjelaskan grafik, tabel, diagram, dan berbagai informasi visual lainnya dalam tulisan dengan bahasa kita sendiri. Suggested length is about 150 words, test taker akan diberikan pinalti (pengurangan poin) jika menulis terlalu pendek. 

Selanjutnya adalah independent writing. Pada bagian ini kita akan dihadirkan pada suatu topik, argumen, atau masalah. Kita diminta untuk menanggapi dengan memberikan solusi dan menjelaskan mengapa. Suggested length is about 250 words. Seperti bagian integrated task, jika kita menulis terlalu pendek maka akan diberikan pinalti.

SPEAKING SECTION

Pada bagian Speaking, di IELTS, test taker akan dihadapkan face-to-face dengan examiner. Hal ini berbeda dengan TOEFL iBT yang di mana bagian speaking dilakukan dengan cara menjawab instruksi yang diberikan melalui microphone untuk direkam. Perlu menjadi catatan, dari berbagai field report, ternyata ada kemungkinan bagian speaking ini dipisah hari pelaksanaannya dengan bagian lainnya. Sebagai contoh, jika listening, reading, dan writing dilaksanakan pada hari Senin, maka ada kemungkinan speaking baru dilaksanakan pada hari Selasanya.

Pada IELTS, speaking dapat dibagi menjadi 3 bagian yakni introduction and interview, long-turn, dan discussion dengan total waktu pelaksanaan 11-14 menit. 

Pada bagian 1 yakni introduction and interview, kita akan diminta untuk memperkenalkan diri, kemudian examiner akan menanyakan berbagai macam pertanyaan umum seperti rumah, keluarga, hobi, pekerjaan, studi yang kita ambil, dan lain hal. Untuk mempertahankan konsistensi, pertanyaan pada bagian 1 ini diajukan mengikuti script yang telah dimiliki oleh examiner. Tujuan bagian 1 adalah menguji kemampuan berbahasa inggris kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagian 1 umumnya berlangsung selama 4-5 menit.

Pada bagian long-turn, examiner akan memberikan test taker sebuah kartu di mana ada terdapat instruksi terkait topik tertentu. Test taker kemudian diminta untuk mengikuti instruksi pada kartu tersebut untuk membahas dan menjelaskan satu aspek dari topik tersebut. Test taker akan diberikan kesempatan 1-2 menit untuk mempersiapkan diri (dapat menulis dan membuat catatan pada kertas yang disediakan). Setelah persiapan selesai, maka test taker dipersilahkan untuk menyampaikan penjelasannya selama kurang lebih 2 menit. Examiner akan bertanya 1 hingga 2 pertanyaan terkait hal ini.

Pada bagian discussion, test taker akan berdiskusi dengan examiner masih dengan topik yang sama pada long-turn namun lebih detail. Dari beberapa rekan yang mengambil IELTS, terkadang diskusinya melebar hingga di luar topik pada long-turn. Jika tujuan pada bagian long-turn adalah untuk menguji kemampuan menyampaikan ide dan gagasan yang umum, maka pada bagian ini kita diuji untuk menganalisis, berspekulasi, menyampaikan pendapat dan mempertahankannya. Bagian ini biasanya berlangsung selama 4-5 menit.


PENUTUP

Pada bagian di atas udah dibahas mengenai format TOEFL iBT dan IELTS Academic Test. Terima kasih untuk Golda yang telah membantu proof read bagian IELTS (author nya ngambil iBT soalnya, jadi pas nulis ielts minta tolong dicek takut salah wkwk).

Secara umum perbedaan dari kedua tesnya adalah cara pengerjaan (paper-based atau computer-based), passage yang digunakan, jenis soal dan cara menjawabnya, dan bagian speaking. Dengan memahami format tiap tes, harapannya kita dapat memilih tes dengan lebih bijak sehingga tidak ada lagi yang:

'ah saya pilih IELTS aja'
atau
'ah saya pilih TOEFL iBT aja'
Padahal belum tau format TOEFL iBT atau IELTS, bisa jadi ia lebih cocok dengan tes lainnya.

Untuk lebih melihat secara jelas perbandingan format antara TOEFL iBT dan IELTS Academic Test, saya sangat-sangat merekomendasikan teman-teman membuka artikel bagian #1 dan mendownload free sample test nya. Dengan demikian, teman-teman akan melihat secara langsung perbandingan kedua tes pada saat di lapangan.

Bagi yang males buka artikel bagian #1, ini saya repost khusus free sample yang menggambarkan kondisi dan interface saat ujian berlangsung:

Program simulasi TOEFL iBT: click here* and here*
Contoh soal IELTS: click here**

*Untuk TOEFL iBT, silahkan download dan install programnya. Setelah itu jalankan programnya. Maka teman-teman akan mendapatkan gambaran keadaan sebenarnya ketika tes sedang berlangsung
**Untuk IELTS, silahkan simulasi di webpage tersebut. Ingat, saat pelaksanaan, teman-teman akan mengerjakan ujian dengan konsep paper-based test, BUKAN computer-based test.
***untuk contoh lengkap berbagai macam free sample test dari kedua tes, silahkan kunjungi artikel bagian #1

Kemudian, perlu diingat, kedua tes merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan berbahas inggris kita pada setting akademik. Tentu akan menjadi hal yang merepotkan ketika kita mendapatkan naskah, rekaman, atau topik di luar background akademik kita (atau menjadi hal yang beruntung kalo ternyata sama). Layaknya teman-teman mendengarkan TED X Talks (khusus yang menjelaskan tentang teori seperti ini, ini, dan ini), materi yang disampaikan bukanlah bidang teman-teman, namun speaker akan berusaha menyampaikan dan menggunakan ilustrasi sehingga teman-teman dapat memahami dasar-dasar subject tersebut sebelum masuk ke bahasan inti TED X Talks. Jadi... ya memang harus membiasakan diri pada lingkungan ber-setting akademik ^^

Kemudian jika sekiranya ada yang salah atau kurang tepat, mohon langsung chat atau komentar di artikel ini ya. Kalau bisa di chat, biar langsung diubah. Setelah bagian #2 selesai, maka edisi selanjutnya adalah bagian #3. Pada bagian #3 kita akan fokus pada pembahasan TOEFL iBT vs IELTS Academic Test. Silahkan dinanti~ ^^
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

PEMBUKA

Kategori English Proficiency Test merupakan sebuah seri untuk mengenal, memahami, memilih, dan mencapai nilai yang ditargetkan pada blog ini. Perlu dipahami, saya sangat-sangat merekomendasikan untuk membaca Kategori English Proficiency Test berurutan (part 1, part 2, part 3, dan part 4). Dengan demikian teman-teman dapat memahami seutuhnya.

Teruntuk teman-teman yang akan berinteraksi dengan lingkungan yang menuntut penggunaan kemampuan berbahasa Inggris, maka tentu sudah tidak asing dengan Internationally Recognized English Test atau English Proficiency Test. 

Internationally Recognized English Test (it is not a common abbreviation tho, but let me call it IRET to make it short) pada dasarnya adalah ujian kompetensi bahasa Inggris yang terstandardisasi (oleh masing-masing pengembang ujian) dan diakui secara internasional. Perlu diingat, masing-masing ujian memiliki tujuannya masing-masing. Dengan memiliki tujuan yang berbeda, maka cara menguji kemampuan berbahasa inggrisnya pun berbeda. Sebagian ada yang fokus sebagai prasyarat imigrasi, sebagian ada yang fokus menguji kemampuan komunikasi di lingkungan kerja, sebagian lainnya ada yang fokus menguji kemampuan di lingkungan akademik.

Dengan demikian, pengembang ujian memiliki pendekatannya masing-masing dalam menguji kompetensi Inggris. Sekalipun antar IRET ada yang memiliki tujuan yang sama, cara mengujinya berbeda. Meski selalu ada perbandingan conversion table antar masing-masing IRET, namun hasil pengkonversian tersebut hanyalah memberikan rough estimation. Seseorang yang berhasil pada salah satu tes tidak dapat terjamin akan meraih skor yang tinggi pada tes IRET lainnya.

Dari berbagai jenis IRET, kita akan fokus pada penggunaan IRET untuk studi lanjut. Pada bagian #1 ini, post ini akan fokus pada pengenalan berbagai jenis IRET yang ada. Secara umum, IRET yang dikenal adalah TOEIC, TOEFL, IELTS, Pearson PTE Academic, Cambridge Michigan Language Assessments, Cambridge English Language Assessment, dan berbagai jenis test lainnya. Jadi, IRET ini tak hanya TOEFL dan IELTS ya :)

Namun karena artikel ini ditujukan khusus untuk teman-teman yang sedang berada di Indonesia dan akan mengambil IRET untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, maka secara umum yang dikenal adalah TOEIC & TOEFL (toefl dan toeic dikembangkan oleh ETS) dan IELTS (dikembangkan oleh gabungan British Council yang terdiri atas IDP: IELTS Australia dan Cambridge Assessment English). 

Penjelasan berikut dibagi berdasarkan pengembang IRET nya yakni ETS dan British Council. 


ETS: TOEIC & TOEFL

ETS, Educational Testing Service, merupakan lembaga non-profit yang mengembangkan berbagai jenis academic standardized test. Jadi, ETS tidak hanya mengembangkan TOEFL, namun berbagai macam academic standardized test juga.

Terkait uji kompetensi Bahasa Inggris, ETS mengembangkan TOEIC dan TOEFL. Pada ETS, Inggris yang digunakan memiliki dialect American-English. Penjelasan lebih detailnya disajikan sebagai berikut:

TOEIC

TOEIC, Test of English for International Communication, merupakan ujian yang dikembangkan untuk menguji kemampuan menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi pada english environment. TOEIC memiliki slogan The Global Leader in English-language Assessment for the Workplace. Hal ini dikarenakan TOEIC dijadikan sebagai acuan oleh berbagai organisasi untuk menstandardisasi kemampuan berbahasa Inggris pegawainya pada dunia kerja. 

Meski tujuan pengembangan TOEIC adalah ke arah International Communication pada lingkungan kerja, beberapa institusi pendidikan masih menerima TOEIC sebagai prasyarat pendaftaran. Yang menjadi catatan adalah kata 'beberapa'. Hal ini dikarenakan parameter uji TOEIC tidak mampu menggambarkan secara utuh kemampuan test taker dalam menggunakan kemampuan Inggrisnya pada Academic Environment. Dapat dikatakan, hanya beberapa universitas yang masih menerima TOEIC khususnya di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu.

TOEIC sendiri dibagi menjadi beberapa program yakni TOEIC Listening and Reading Test, TOEIC Speaking and Writing Test, dan TOEIC Bridge Test.

Pada TOEIC Listening and Reading Test (TOEIC LR) memiliki rentang nilai total 10-990 dengan masing-masing section Listening 5-495 dan section Reading 5-495.

Pada TOEIC Speaking and Writing Test (TOEIC SW) memiliki rentang nilai total 0-400 dengan masing-masing section Speaking 0-200 dan section Writing 0-200.

Pada TOEIC Bridge Test memiliki rentang nilai total 20-180 dengan masing-masing section Listening 10-90 dan section Reading 10-90.

Jika ditujukan untuk tujuan melanjutkan studi, ada beberapa institusi yang hanya meminta calon mahasiswanya memiliki score pada Listening and Reading Test saja namun ada juga sebagian institusi yang mempersyaratkan kedua test nya yakni Listening and Reading Test dan Speaking and Writing Test.

Penjelasan lebih lengkap TOEIC: click here
Registrasi TOEIC: click here
Contoh-contoh soal TOEIC: click here

TOEFL

Secara umum TOEFL, Test of English as a Foreign Language, digunakan sebagai salah satu ujian masuk pada universitas dan sekolah lanjut (S2, dll). Dengan demikian, pengembangan TOEFL akan mengarah pada menguji kemampuan test taker pada Academic Environment. Karena hal ini, TOEFL hanya menawarkan Academic English. Jadi tidak dikenal istilah General TOEFL pada TOEFL (berbeda dengan IELTS dan beberapa IRET lainnya yang memiliki jenis General).

TOEFL sendiri sudah digunakan sejak lama sebagai prasyarat dalam berbagai institusi, tak hanya institusi pendidikan. Dari sejarahnya, TOEFL memiliki berbagai jenis yakni TOEFL PBT, TOEFL CBT, TOEFL ITP, TOEFL iBT dan, TOEFL Paper-delivered Test.

TOEFL PBT
TOEFL PBT, paper based test, dapat dikatakan merupakan jenis tes yang paling tua dari TOEFL. Mengapa dikatakan demikian? Karena jenis tes ini merupakan TOEFL yang paling awal dikembangkan oleh ETS. Pada TOEFL PBT, tes dibagi menjadi 3 sections: Listening, Structure, dan Reading dengan range nilai total berkisar antara 310-677. Tiap section memiliki kisaran raw score sebagai berikut:

Listening: 50 soal, 40 menit, rough score pada rentang 31-68
Structure: 40 soal, 25 menit, rough score pada rentang 31-68
Reading: 60 soal, 45 menit, rough score pada rentang 31-67

di-capture dari halaman ETS (https://www.ets.org/toefl/pbt/about)

Tak banyak yang bisa dibahas pada TOEFL PBT karena tercatat semenjak Juli 2017, pelaksanaan TOEFL PBT telah dihentikan. Jika test taker berdomisili di negara yang belum tersedia TOEFL iBT, maka TOEFL Paper-delivered Test bisa menjadi pengganti TOEFL PBT (baca lebih lanjut di TOEFL Paper-delivered Test). Untuk rekan-rekan yang pernah melakukan TOEFL PBT sebelum Juli 2017, score nya tetap valid sampai 2 tahun ke depan. 

TOEFL CBT
TOEFL CBT, Computer Based Test, merupakan jenis tes yang dikenalkan pada tahun 1998 sebagai alternatif dari pelaksanaan TOEFL PBT saat itu. TOEFL CBT dibagi menjadi 4 sections: Listening, Structure, Reading, dan Writing dengan kisaran nilai total 0-300.  Penggunaan ujian berbasis komputer memiliki peran yang penting terhadap perkembangan TOEFL. 

Sekali lagi tak banyak yang bisa dibahas pada TOEFL CBT karena pada September 2006 (1 tahun setelah pengenalan TOEFL iBT), pelaksanaan TOEFL CBT dihentikan.

TOEFL ITP
TOEFL ITP, Institutional Testing Program, merupakan sebuah program yang diluncurkan oleh ETS untuk membantu berbagai macam institusi untuk mengadakan tes kompetensi bahasa Inggris yang terjangkau dan terjamin kualitasnya. Format TOEFL ITP sangat-sangat mirip dengan TOEFL PBT yang dulu (non revised version) yakni terdiri atas Listening, Structure, dan Reading. Perlu menjadi catatan bahwa jika ada institusi yang memprasyaratkan TOEFL PBT, maka yang dimaksud adalah TOEFL PBT (non revised version) atau TOEFL Paper-delivered Test (TOEFL PBT revised version) bukan TOEFL ITP.

Dengan demikian, sebenarnya, ETS mengembangkan TOEFL ITP hanya bertujuan untuk membantu berbagai institusi untuk menyediakan platform untuk memantau progress test taker pada institusi tersebut. Jika dibandingkan dengan TOEIC, TOEFL ITP masih cenderung lebih sering dijadikan prasyarat di berbagai institusi. TOEFL ITP umumnya masih digunakan sebagai prasyarat untuk institusi di mana bahasa ibunya bukanlah bahasa Inggris. Dapat dikatakan, TOEFL ITP hanya diterima di beberapa institusi di beberapa negara di Asia meski terkadang beberapa Institusi selain di Asia masih menerimanya.

Mengutip dari website ETS,
The TOEFL ITP and TOEFL iBT® tests are used for separate purposes and administered differently. The TOEFL iBT test is a high-stakes assessment administered by ETS. Institutions use TOEFL iBT test scores to make high-stakes decisions, such as university-level student admissions. TOEFL ITP tests are administered by institutions or our ETS preferred network and used for specific purposes including placement, monitoring progress and more.
Karena TOEFL ITP merupakan bentuk kerja sama antara ETS dengan Institusi, maka yang melaksanakan dan mengatur pelaksanaan tes diserahkan kepada Institusi tersebut dengan tetap berkoordinasi dengan ETS. Hal ini terkait waktu, tempat, dan biaya. Dengan demikian, biaya antar tempat tes TOEFL ITP bisa beragam. Umumnya biaya bervariasi sekitar 300k-500k IDR. Jadi berbagai macam institusi yang mengklaim TOEFL ITP di bawah rentang 300 ribu rupiah PATUT DICURIGAI.


Lantas bagaimana untuk mengetahui waktu, tempat, dan biaya TOEFL ITP yang guaranteed asli dari ETS?
Silahkan cek di IIEF. IIEF dapat dikatakan 'perwakilan ETS' di Indonesia. IIEF mengatur pelaksanaan berbagai TOEFL ITP di berbagai institusi di Indonesia. Untuk memahami berbagai penjelasan lain tentang TOEFL ITP, silahkan buka halaman di bawah ini:


Penjelasan lebih lengkap TOEFL ITP: click here
Registrasi TOEFL ITP: (hubungi institusi pelaksana masing-masing)
List Institusi pelaksana TOEFL ITP resmi dari IIEF: click here*
Pendoman TOEFL ITP: click here
Contoh-contoh soal TOEFL ITP: click here

*silahkan dibuka, pilih kota dan tanggal pelaksanaannya, dan hubungi institusi tersebut untuk mengetahui mekanisme pendaftarannya

TOEFL iBT
TOEFL iBT, Internet Based Test, merupakan jenis tes yang paling sering digunakan hingga saat ini. Berdasarkan statistik di website ETS, test taker menggunakan hampir 97% TOEFL iBT dan hanya 3% TOEFL Paper-delivered Test (perbedaan paper-delivered test dengan PBT akan dijelaskan selanjutnya). Biaya TOEFL iBT bervariasi untuk tiap negara, untuk Indonesia sebesar 195 USD (update June 25, 2018). Segala macam jenis promosi, flier, etc yang sekiranya jauh dari harga 195 USD patut dipertimbangkan keasliannya. 

Pada TOEFL iBT, soal akan dikerjakan melalui komputer yang terkoneksi ke internet. TOEFL iBT memiliki 4 section yakni Listening, Reading, Speaking, dan Writing. Waktu pelaksanaan TOEFL iBT cenderung lebih lama yakni 4 jam yang terdapat break sebelum section speaking.

Pada bagian Listening dan Reading, jawaban yang telah diberikan akan dinilai secara otomatis oleh komputer dan didapatkan rough score. Pada bagian Speaking dan Writing, beberapa instruksi akan disampaikan untuk kemudian test taker tanggapi melalui microphone untuk speaking dan melalui essay box untuk writing. Headset yang memiliki microphone telah disediakan penanggung jawab pelaksana test. Jawaban tersebut kemudian akan direkam dan akan dinilai oleh test raters dalam bentuk rough score. Semua rough score akan dikonversi menjadi scaled score (tiap band memiliki rentang 0-30). Setelah dikonversi nilai tersebut akan dijumlahkan sehingga dihasilkan skor total dengan rentang 0-120.

How rough scores are converted? No one actually knows. Only ETS knows.

Penjelasan TOEFL iBT: click here
Rekomendasi buku buat belajar TOEFL iBT: click here*
Free preparation resource TOEFL iBT: click here**
Registrasi TOEFL iBT: click here
Contoh-contoh soal TOEFL iBT: click here

*buku yang saya rujuk sangat-sangat saya rekomendasikan. kasarnya, yang buat tes (ETS) yang buat bukunya. jadi untuk apa bersandar pada buku yang lain jika yang buat tesnya udah buat buku? hehe. Kalo nda mampu beli... ya bisa baca dari perpus, pinjem punya senior, atau... you know what you should do :)
**scroll ke bagian bawah nanti ada bacaan free preparation material. kalo ga kesampean baca bukunya, coba ini juga boleh hehe

TOEFL Paper-delivered Test
Dikarenakan kehadiran TOEFL iBT, penggunaan TOEFL PBT mulai dihentikan dan digantikan dengan yang baru yakni TOEFL Paper-delivered Test. Pada jenis tes ini sederhananya adalah revised version dari TOEFL PBT yang disesuaikan dengan isi tes TOEFL iBT. TOEFL Paper-delivered Test ini mulai diberlakukan setelah Juli 2017 untuk beberapa lokasi di mana tidak memungkinkan untuk melakukan TOEFL iBT (akses internet, akomodasi, dll).

di-capture dari halaman ETS (https://www.ets.org/toefl/rpdt/about)

TOEFL Paper-delivered Test juga biasa disebut sebagai TOEFL PBT revised version. TOEFL Paper-delivered Test terdiri atas 3 section Reading, Listening, dan Writing dengan rentang score masing-masing section 0-30 dan rentang score total adalah 0-90. Dapat dilihat pada TOEFL Paper-delivered Test pun menggunakan skala score yang sama dengan TOEFL iBT. TOEFL Paper-delivered Test biasanya dipilih oleh teman-teman sebagai IRET ketika TOEFL iBT belum tersedia di negara tersebut. Ketika TOEFL iBT belum tersedia di negara tersebut, maka TOEFL Paper-delivered Test dapat digunakan untuk menggantikan TOEFL PBT yang telah dihentikan pelaksanaannya Juli 2017 lalu.

Beberapa institusi pendidikan masih menerima jenis test ini untuk mengakomodir para pendaftar dari negara di mana TOEFL iBT masih belum bisa dilaksanakan. Kedepannya, ketika ada beberapa institusi yang memprasyaratkan TOEFL PBT, maka yang mereka maksud adalah TOEFL PBT (non revised version) atau TOEFL Paper-delivered Test bukan TOEFL ITP. 

Pada revised version ini, test taker akan diuji kemampuan berbahasa inggrisnya (Listening, Reading, Writing) hampir mirip kontennya dengan TOEFL iBT (namun tidak ada section speaking) sehingga TOEFL Paper-delivered Test dapat dianggap sejajar terhadap TOEFL iBT pada negara-negara di mana TOEFL iBT belum bisa dilaksanakan. Biaya tes TOEFL Paper-delivered Test adalah 180 USD dan layaknya TOEFL iBT, score berlaku selama 2 thaun.

Perlu menjadi catatan, setelah melakukan pengecekan, di Indonesia seluruh jenis pelaksanaan TOEFL hanyalah TOEFL iBT. Tidak ada pelaksanaan TOEFL Paper-delivered Test.  Dikarenakan TOEFL Paper-delivered Test ini tidak ada di Indonesia, jadi tidak perlu dibahas lanjut ya :)

Penjelasan TOEFL Paper-delivered Test: click here
Registrasi TOEFL PBT: click here*
Contoh-contoh soal TOEFL Paper-delivered Test: click here

*Ingat, di Indonesia tidak dilaksanakan TOEFL Paper-delivered Test. Untuk membuktikannya sendiri, silahkan klik link registrasi TOEFL PBT di atas kemudian pilih negara Indonesia. Hasilnya cuma tanggal dan tempat pelaksanaan TOEFL iBT

Memahami TOEFL lainnya
Setelah memahami TOEFL PBT, TOEFL CBT, TOEFL ITP, TOEFL iBT, dan TOEFL Paper-delivered Test, maka dapat dikatakan seluruh jenis TOEFL yang ada di Indonesia selain TOEFL iBT dan TOEFL ITP adalah tidak resmi (bukan dari ETS). Mengapa demikian? Ingat, TOEFL PBT telah dihentikan 2017 lalu, TOEFL CBT 2007 lalu dan TOEFL PBT revised version (Paper-delivered Test) tidak ada di Indonesia.

Dengan memahami dasar-dasar dari sejarah perkembangan tes TOEFL tersebut harapannya teman-teman tidak terjebak dengan marketing berbagai lembaga belajar bahasa yang menggunakan istilah-istilah yang ambigu dengan sengaja untuk membuat test taker beranggapan bahwa itu adalah benar TOEFL resmi dari ETS.

Di lapangan, saya sering menemukan beberapa flier yang membuka pendaftaran tes TOEFL PBT (padahal seperti yang dijelaskan, TOEFL PBT tidak ada di Indonesia). Ketika saya konfirmasi ke institusi tersebut, mereka tetap menyampaikan bahwa mereka mengadakan TOEFL PBT, bukan TOEFL-Like ataupun TOEFL ITP. Setelah saya telusuri dari list IIEF, ternyata lembaga yang bersangkutan bukan juga pelaksana TOEFL ITP. Dari sini saya curiga yang mereka adakan hanyalah TOEFL-Like yang dinamakan TOEFL PBT oleh mereka. Mungkin alasannya adalah TOEFL-Like kan paper based test, alias dikerjakan dikertas. Padahal term TOEFL PBT itu merujuk ke pada jenis tes nya, bukan bagaimana tes itu dikerjakan. So, take care!

Secara umum, bahasa yang digunakan oleh TOEFL-TOEFL-an (tes yang mirip kontennya dengan TOEFL tapi bukan TOEFL resmi) yakni TOEFL-Like. TOEFL-Like is not administered, sponsored, developed, controlled, by ETS. Jadi tes tersebut tidak ada hubungannya dengan ETS. Biasanya TOEFL-Like diambil berkali-kali untuk persiapan untuk TOEFL ITP. Sampai saat ini, saya belum pernah menemukan institusi di luar negeri yang dalam website nya menerima TOEFL-Like sebagai IRET mereka, mohon dikoreksi ya jika ada. Pada institusi dalam negeri, terdapat beberapa yang masih menerima TOEFL Like namun tidak banyak. Umumnya institusi dalam negeri tetap memprasyaratkan minimal TOEFL ITP.

TOEFL-Like merupakan tes yang dibuat menyerupai TOEFL ITP (ingat, TOEFL ITP mirip dengan TOEFL PBT yang old bukan yang revised version). TOEFL-Like umumnya digunakan untuk menggambarkan kemampuan kasar berbahasa inggris kita. Biaya tesnya pun cenderung lebih murah, bisa di bawah 100 ribu rupiah sekali tes, bahkan beberapa lembaga bahasa memberikan kesempatan TOEFL-Like gratis.

Penutup ETS

Secara singkat, jenis tes kompetensi inggris resmi dari ETS hanya ada 3 macam di Indonesia yakni TOEIC, TOEFL ITP dan TOEFL iBT. TOEFL ITP merupakan bentuk kerja sama ETS dengan berbagai Institusi. TOEFL ITP dikelola, dilaksanakan, diatur oleh Institusi pelaksana tes (biasanya lembaga kursus bahasa) namun tetap berkoordinasi dengan ETS. Pada TOEFL iBT dikelola oleh ETS secara langsung bekerja sama dengan beberapa Authorized Testing Center. 

Jadi, ketika ada yang nawarin TOEFL PBT, maka mohon dipastikan ke lembaga tersebut apakah yang ia maksud adalah TOEFL ITP. Jika lembaga tersebut memberikan jawaban yang tidak membuat Anda paham, silahkan cek apakah lembaga tersebut tercantum pada list di IIEF. Jika tidak, maka TOEFL PBT yang ia maksud tak lain hanyalah sebuah TOEFL-Like.

Saya sangat-sangat merekomendasikan untuk mendaftar langsung melalui link (untuk TOEFL iBT) atau menghubungi langsung nomor telefon institusi (untuk TOEFL ITP) yang tertera pada halaman IIEF. Karena dengan mendaftar langsung dapat dipastikan keasliannya dan lebih murah (bisa mencapai 100-300k IDR lebih murah pada TOEFL iBT) daripada didaftarkan oleh Authorized Testing Center nya.


British Council: IELTS

Sejarah singkatnya pada tahun 1980 IELTS pertama kali disusun oleh British Council, Cambridge English Language Assessment, and The International Development Program of Australian Universities and Colleges. IELTS, International English Language Testing System, mengukur kemampuan berbahasa inggris test taker yang ingin melanjutkan studi atau bekerja di english environment. 

Perlu menjadi catatan penting, menariknya dari tes IELTS adalah mereka membawa slogan Fair to All khususnya bagian dari tes itu sendiri. Pada berbagai komponen uji IELTS, terdapat beberapa penyampaian yang menggunakan berbagai dialect (ga hanya American English, bisa juga British, dll). Teruntuk yang belum biasa berinteraksi dengan berbagai macam dialect, ini akan menjadi tantangan tersendiri.

IELTS terdiri atas 4 section: Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Tes IELTS berlangsung kurang lebih 2 jam 45 menit, lebih singkat jika dibandingkan TOEFL iBT yang mencapai 4 jam. Cara pengerjaan tes pun berbeda, pada tes IELTS jawaban diisi dengan mengisi kertas lembar jawaban yang telah diberikan. Pada bagian Speaking, proses tes akan langsung dilaksanakan dalam bentuk tatap muka (face-to-face) dengan examiner dari British Council. Tiap section memiliki rentang nilai dari 1 (non user) hingga 9 (expert) dengan skor total merupakan rata-rata dari keempat section.

IELTS memiliki 2 jenis tes yakni Academic dan General. Secara umum, jenis IELTS Academic merupakan jenis yang paling sering diambil oleh test taker sebagai prasyarat melanjutkan studi sedangkan IELTS General umumnya digunakan untuk persyaratan kerja dan imigrasi (Australia, Canada, UK). Meskipun demikian pastikan kembali prasyarat dan jenis IELTS yang diminta institusi yang bersangkutan. Jika tidak ada penjelasan jenis IELTS apa yang diminta, it is safely assumed they meant IELTS Academic. Biaya IELTS Academic beragam tiap lokasi dan negara, di Indonesia sendiri harganya beragam. Namun untuk daerah JABODETABEK umumnya sekitar Rp 2.850.000 (update June 26, 2018).

Di Indonesia sendiri IELTS Simulation lebih sering ditemukan. Layaknya TOEFL-Like, IELTS Simulation tidak memiliki hubungan apapun dengan British Council. IELTS Simulation umumnya diadakan oleh lembaga belajar bahasa. Harganya pun bervariasi, ada yang gratis, ada yang hanya 50 ribu hingga ada yang bahkan mencapai 300 ribu. IELTS Simulation bisa diambil sebagai gambaran terhadap perkiraan skor untuk tes sebenarnya nanti.

Penjelasan IELTS Academic: click here
Penjelasan format IELTS Academic: click here
Rekomendasi buku IELTS: click here
Registrasi IELTS: click here*
Contoh-contoh soal IELTS Academic: click here

*jangan lupa saat registrasi tentukan jenis IELTS apa yang Anda akan ambil, General atau Academic.


PERSYARATAN IRET DI BERBAGAI UNIVERSITAS (update June 29, 2018)

Pada bagian ini saya akan melampirkan berbagai persyaratan pendaftaran S2 di berbagai universitas. Perlu menjadi catatan, persyaratan universitas bisa saja berbeda dengan persyaratan jurusan yang kalian pilih. Sebagai contoh, ada persyaratan universitas yang meminta TOEFL iBT di atas 80, namun program studi yang kalian pilih di universitas tersebut di halamannya meminta TOEFL iBT di atas 90. Hal ini sangat wajar mengingat tuntutan tiap program studi itu berbeda satu sama lain. Jadi jangan lupa cek website program studi kalian ya, pastikan syarat IRET nya. 

Dan satu poin penting lagi, terkadang ada beberapa universitas memiliki kecenderungan terhadap salah satu IRET meski tentu tetap menerima score dari IRET lainnya. Tapi bukan berarti seakan-akan IRET lainnya tidak berlaku ya. Tes IRET lainnya tetap diterima, hanya universitas yang bersangkutan memiliki kecenderungan saja.

So here we are,

Figure 1: Persyaratan IRET dari MIT. Perhatikan, MIT menyatakan preferred IELTS. MIT juga menegaskan persyaratan tiap departemen bisa bervariasi dan kita harus mengecek website departemen untuk memastikan syarat IRETnya


Figure 2: Untuk universitas di Swedia, pendaftaran S2 dilakukan terpusat pada portal universityadmissions.se. Dapat dilihat seperti yang saya katakan, ketika tertulis TOEFL Paper-based atau TOEFL PBT, yang dimaksud adalah TOEFL Paper-based Test (TOEFL PBT revised-version) BUKAN TOEFL ITP/TOEFL-LIKE. Terlihat juga, Institusi di Swedia menerima berbagai macam IRET lainnya. Catatan: yang tertera adalah persyaratan minimal portal. persyaratan tiap program studi bisa bervariasi.


Figure 3: Persyaratan IRET pada Tokyo Institute of Technology untuk International Graduate Program A. Dapat dilihat meski titech berada di Asia dan tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa ibu, titech tetap tidak menerima TOEFL ITP. Dalam persyaratan di website univ, titech tidak mencantumkan batas minimalnya, namun tetap teman-teman harus memastikan persyaratan minimal ke masing-masing program studi yang dipilih



PENUTUP

Selesai sudah artikel bagian 1 ini. Terima kasih untuk Artika yang telah membantu proof read bagian IELTS (author nya ngambil iBT soalnya, jadi pas nulis ielts minta tolong dicek takut salah wkwk).

Harapannya dengan artikel ini teman-teman jadi memahami dasar-dasar dari Internationally Recognized English Test yang umum di Indonesia. Teruntuk yang sudah mengambil salah satu IRET, silahkan dicek kembali apakah benar-benar official. Kemudian jika sekiranya ada yang salah atau kurang tepat, mohon langsung chat atau komentar di artikel ini ya. Kalau bisa di chat, biar langsung diubah.

Nantikan artikel 2 tentang mengenal lebih dekat TOEFL iBT dan IELTS ^^ 
Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Older Posts

About me





Nuclear Engineer in the making
[MSc] Nuclear Energy Engineering - KTH Royal Institute of Technology
[MSc] Nuclear Plant Design - ENSTA ParisTech


recent posts

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates